Penanganan Pasca Banjir Bandang Lubuktarok Sijunjung Terkesan Lamban

622
Sijunjung
jembatan Batangkurimo yang dibangun sejak tahun 2001 lalu itu ambruk akibat hantaman banjir bandang, pasca banjir (foto.saptarius)

JURNAL SUMBAR | SIJUNJUNG — Masyarakat Lubuktarok, Kabupaten Sijunjung, menyesalkan lambannya penanganan pasca bencana banjir bandang yang menyebabkan ambruknya Jembatan Batangkurimo sepanjang 24 meter. Jembatan kabupaten tersebut merupakan urat nadi di Nagari Lubuktarok, Kecamatan Lubuktarok, Kabupaten Sijunjung.

“Lebih sebulan bencana banjir bandang berlalu—yang terjadi sekitar Selasa (28/3) pagi sekitar pukul 03.15 pekan lalu  itu —, namun hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan jembatan maupun jembatan sementara. Sampai kapan hal ini dibiarkan,” ujar beberapa masyarakat Lubuktarok.

Begitupun penanganan rumah yang tersapu banjir juga dinilai lamban meski berbagai bantuan silih berganti berdatangan.

Menyikapi keluhan masyarakat, Kepala Dinas PU Sijunjung, Ir. Budi Syafriman menyebutkan, secara teknis pihaknya sudah siap.

”Kalau kami hanya secara teknis, soal bencana kan urusan pihak BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan secara teknis kini pun kami sudah siap,”kata Budi kepada JURNAL SUMBAR belum lama ini.

Sementara itu, Kepala BPBD Sijunjung, Hardiwan belum lama ini, justru mengaku pihaknya sedang mengajukan profosal ke pihak BNPB Pusat.

“Saat ini kami sedang mengajukan permohonan untuk pembangunan jembatan baru di Lubuktarok yang rusak akibat bencana banjir bandang itu,”katanya. Bahkan katanya, dalam waktu dekat penanganan jembatan sementara akan segera dibangun. “Kami berharap masyarakat bersabar,”tambahnya.

Anggota DPR RI,H. Andre Saifoel yang juga tokoh masyarakat Lubuktarok minta pihak Pemkab Sijunjung segera tanggap atasi pasca bencana banjir bandang itu.

“Untuk pembangunan maupun perbaikan akibat bencana itu tidak harus menunggu anggaran dan itu kan bisa pergunakan anggaran darurat bencana yang ada di Pemkab Sijunjung itu sendiri. Kasihan kita melihat masyarakat apalagi jembatan tersebut sebagai akses jalan kabupaten dari dan ke Lubuktarok,”jelas haji wen begitu sapaan akrab pengusaha muda yang jadi legislator di senayan itu berharap.

Bencana banjir bandang selain menyebabkan ambruknya jembatan Batang Kurimo, juga memporakporandakan pipa SPAM Batang Kurimo dan menghanyutkan rumah pendudukan serta merendam belasan rumah di Nagari Lubuktarok dan Nagari Lalan itu masih belum hilang dari ingatan para keluarga korban.

Meski dalam penangan pembangunan jembatan lamban, namun saat kejadian Wakil Bupati Sijunjung, Arrival Boy langsung datang kelokasi banjir bandang. Bahkan dalam peninjauan saat banjir itu, Wabup didampingi Kadis PU Ir. Budi Syafriman, Kadis PMPN Syukri, Kadis Satpol PP, Kabid PU Pengairan, Soewardji, ST dan Walinagari Lubuktarok, Zuriatman, walinagari Lalan, Martonis serta Sekcam Lubuktarok, Sidi Yanto.

Sayangnya, dalam peninjauan tersebut tak satupun ada anggota dewan yang turun ke lapangan baik dari wilayah pemilihan Lubuktarok maupun anggota DPRD Kabupaten Sijunjung dan itu disesali warga.

SijunjungUntuk sekedar catatan, sebelum para petinggi kabupaten itu datang, tiga orang anggota BPBD Sijunjung lebih dulu datang ke lokasi dan memberi bantuan makanan siap saji pada korban banjir bandang. Anggota Hardiwan.SP itu ternyata lebih tanggap dari anggota dewan.

“Pak Hardiwan sedang berangkat ke Jakarta mengurus dana tanggap darurat,”ujar Wabup Sijunjung. Arrival Boy berharap dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembangunan jembatan batangkurimo.

Bahkan Wabup Sijunjung, Arrival Boy meminta segera Kadis PU Budi Syafriman untuk mendata kerugian akibat banjir bandang itu. Menurut perkiraan Kadis PU Budi Syafriman, kerugian jembatan yang ambruk akibat banjir bandang itu mencapai Rp3,5 miliar.  Jembatan itu dulunya jembatan kayu yang diubah jadi permanen pada tahun 2000-an sepanjang 24 meter.

“Kita butuh dana tanggap darurat kisaran Rp4 miliar lebih termasuk sekaligus untuk menormalisasi batang kurimo yang menjadi kawasan pemukiman penduduk,”kata Budi Syafriman kepada Wabup Sijunjung, Arrival Boy dan pada JURNAL SUMBAR disela-sela peninjauan banjir bandang kala itu.[Saptarius]