Ekowisata Konservasi Penyu, Kerja Cerdas “Laskar Haridman Kambang”

1225
Haridman Kambang (paling kiri) poto bersama dengan Pemred Jurnal Sumbar, Novermal Yuska dan Supervisor Program Taburpuja Yayasan Damandiri, Edi Suandi di pondok pemeliharaan penyu mikik Laskar Haridman Kambang.

JURNAL SUMBAR | Sutera Pessel – Kerja keras dan kerja cerdas Laskar Pemuda Peduli Lingkungan Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan yang lebih dikenal dengan sebutan “Laskar Haridman Kambang” patut diapresiasi. Dengan bendera Laskar Turtle Camp, kelompok pemuda kreatif itu menyulap pantai gersang menjadi rimbun dan jadi pusat konservasi penyu.

Laskar PPL yang dipimpin Haridman Kambang itu memulai gerakan peduli lingkungan dengan menanami 30 hektar hamparan pantai gersang dengan 3.300 batang pohon Cemara Laut. Tak hanya itu, 10 hektar kawasan muara sungai di sana juga ditanami dengan 35 ribu pohon mangrove jenis Bakau. Kini pepohonan anti abrasi yang berumur 1,5 tahun itu sudah menghijau dan rimbun.

Kerja keras Laskar Haridman Kambang itu berlanjut dengan progran konservasi penyu. Penangkaran penyu yang dimulai tahun 2015 itu kini memiliki koleksi jenis Lekang, Sisik, Hijau dan Tempayan. Kini ada 7 sarang penetasan telur penyu (100-an butir per sarang) yang berhasil diselamatkan dari perburuan oknum masyarakat. Setelah 45-52 hari, penyu yang baru menetas (tukik) langsung dilepas ke laut lepas.

“Penyu yang ada di kolam itu untuk penelitian pihak ITB,” jelas Haridman Kambang kepada Jurnal Sumbar di markasnya di Taman Ekowisata Amping Parak, Rabu siang (28/6-2017). “Selesai penelitian nanti, dilepas lagi ke laut,” tambahnya sembari mengatakan, untuk makannya (ikan teri dan ikan lainnya) habis Rp150 ribu per hari.

Wartawan Harian Haluan itu menambahkan, kawasan ekowisata itu banyak dikunjungi oleh siswa dan masyarakat umum. “Mereka datang untuk mempelajari konservasi penyu dan melihat secara langsung bagaimana upaya pelestariannya,” jelasnya. “Hari biasa, kunjungan 4.500 orang per bulan, dan hari lebaran ini mencapai 1.500 orang per hari,” tambahnya.

“Sebelum ke penangkaran, pengunjung terlebih dahulu diberi informasi tentang konservasi penyu, dan mereka dibatasi hanya satu jam di lokasi penangkaran,” jelas Haridman. “Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, pukul 17.00 Wib seluruh kawasan konservasi harus sudah dikosongkan dari pengunjung,” tambahnya. “Karena, pukul 17.00 Wib itu penyu sudah mulai mendarat untuk bertelur,” alasnya.

Haridman Kambang yang didampingi pawang penyu, Syamsirol menjelaskan, sejak ada penangkaran, sudah 90 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur, dan baru 20 persen telurnya yang bisa diselamatkan untuk ditetaskan. “Kita akan terus mengedukasi masyarakat untuk tidak lagi berburu telur penyu,” tegasnya. “Kita tidak ingin ada masyarakat berurusan dengan hukum gara-gara masih berburu telur penyu,” tegasnya lagi.

Haridman Kambang berharap bantuan pemerintah guna optimalisasi operasional ekowisata yang dikelolanya. “Kami butuh bantuan menara pemantau penyu mendarat, kano perawatan mangrove, perahu penyeberangan dan dermaga pendaratan,” ujarnya. “Kita berharap sekali ada perhatian dari Pemkab Pessel dan Pemprov Sumbar,” harapnya.

“Alhamdulillah, kami sudah mendapat pendampingan teknis dan administrasi dari DKP Pessel dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut,” ujar Haridman. “Semoga keberadaan ekowisata ini bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya melestarikan lingkungan,” pungkas mantan Caleg DPRD Pessel itu. [Enye]