Keluarga Sakinah

470
JURNAL SUMBAR — Dalam hidup berkeluarga, seorang laki-laki dan perempuan yang berkomitmen menjadi suami – istri, memiliki tanggung jawab untuk mengisi biduk rumah tangganya, senantiasa dalam rangka ketaatan kepada Allah swt. Suami dan istri, memiliki tanggung jawab untuk saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Terutama bagi seorang suami, sudah menjadi kewajiban seorang suami sebagai seorang keluarga, untuk membina dan membimbing segenap anggota keluarganya menuju ketaatan kepada Allah swt
Sebuah doa bagi setiap laki-laki yang berperan sebagai kepala keluarga. diajarkan Allah dalam Al Qur’an.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan: 74)
Rumah tangga dalam Islam adalah `tempat berteduh’, tempat terwujudnya suasana sakinah (tenteram) yang disempurnakan dalam mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih-sayang). Sebagaimana yang disabdakan Rasululah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)`baitii jannatii’, rumahku adalah surgaku.
Anak yang dibesarkan dalam usrah yang tenteram, diliputi oleh rasa kasih sayang, pasti akan menjadi anak yang tumbuh normal, dewasa, dan matan kepribadiannya.
Sebaliknya bayi yang lahir dari kegelisahan, kebencian, dan kekejaman dalam rumah tangga kelak akan menjadi anak-anak yang membalas dendam kepada masyarakat di mana dia hidup. Akan fatal akibatnya apabila seorang ibu sibuk di luar rumah dan melupakan tugas memberikan sentuhan kasih sayang secara optimal kepada anaknya.
Anak yang merasakan sentuhan kasih sayang sejak dini akan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebaliknya, anak yang kehilangan kasih sayang sejak kecil akan menjadi anak yang rendah diri, minder, dan sulit menyayangi orang lain. Ia akan protes melihat kenyataan hidup yang dihadapi.
Allah swt berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At Tahrim: 6)
Dan sebaliknya, segenap anggota keluarga juga wajib mentaati arahan kepala keluarga, istri wajib taat kepada suami, anak wajib patuh kepada kedua orang tuanya. Semua itu dilaksanakan, selama arahan yang diberikan tetap tidak melanggar syariah dan ketentuan Allah.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisa’:34)
Alangkah indahnya sebuah keluarga, yang semua anggotanya bisa saling memahami dan menghargai. Untuk itu, untuk menyatukan semua hati anggota keluarga, sangat penting bagi setiap anggota keluarga untuk menekan egonya masing-masing, dan menguatkan komunikasi di antara mereka. Setiap keluarga hendaknya memiliki “family time”, waktu khusus untuk bersama-sama di tengah kesibukan masing-masing.
Di zaman di mana semua orang memiliki gadget di tangannya masing-masing, perlu kita pahami waktu untuk keluarga jangan sampai tersaingi dengan keasyikan kita menikmati gadget. Mungkin pada gadget itu, sebagian  orang bisa larut lama dan lupa akan waktu. Sayang sekali, waktu berharga untuk berkomunikasi dengan istri dan anak jadi terbuang dengan aktivitas bersosial media dan sebagainya itu. Waktu yang pergi takkan kembali, momen berharga yang hilang, takkan bisa didatangkan lagi. Yang bisa kita lakukan adalah mengatur kembali pola komunikasi verbal kita bersama keluarga.
Adalah aneh rasanya, jika dalam satu rumah, mereka berkomunikasi via Whatsapp atau messenger, padahal jarak hanya 1 ruangan, atau berbeda kamar. Ini bentuk komunikasi palsu, komunikasi yang berperan hanya menyampaikan pesan, bukan memahamkan pesan, dari hati ke hati. Ada yang hilang dari kejadian itu, yaitu sentuhan, tatap mata, dan pola interaksi langsung sesama anggota keluarga. Sesuatu yang membuat keluarga itu “hidup”.
Rumah tangga yang surgawi hanya bisa dicapai jika didalamnya dilakukan aktivitas-aktivtias surgawi. Pancaran keimanan dari suami, istri, dan anak-anak terpancar di seluruh sudut ruang rumah. Ini perlu diikhtiarkan, di mana aktivitas-aktivitas ibadah, dilakukan dengan penuh ketaatan dan keikhlasan oleh seluruh anggota keluarga. Orang tua adalah teladan, jadi setiap suami dan istri harus melakukannya dengan baik dan konsisten, dan akan diikuti oleh anak-anak. Tak ada yang instan, harus diikhtiarkan untuk mencapai kesakinahan rumah tangga.
Menurut seorang pakar konsultasi keluarga sakinah, Ust Cahyadi Takariawan, dalam bukunya, “Wonderful Family”, ada 10 ciri yang bisa kita ikhtiarkan dalam mewujudkan keluarga sakinah, yaitu
1.Berdiri di atas pondasi keimanan yang kokoh
2.Menunaikan misi ibadah dalam kehidupan
3.Mentaati ajaran agama
4.Saling mencintai dan menyayangi
5.Saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan
6.Saling memberikan yang terbaik untuk pasangan
7.Mudah menyelesaikan permasalahan
8.Membagi peran berkeadilan
9.Kompak mendidik anak-anak
10.Berkontribusi untuk kebaikan masyarakat, bangsa dan negara
Wallahu a’lam bishshawaab
=====================================
Materi ceramah ini bisa disimak di Youtube link:
Lebih lengkap dengan ceramah saya, bisa disimak di Youtube Channel saya :