Masyarakat Solok Merasa Terganggu dengan Kasus Dokter Fiera Lovita

560

JURNAL SUMBAR | Solok- — Aksi spontan dilakukan oleh sejumlah tokoh lintas masyarakat Kota Solok di daerah Simpang Surya pada malam 4 Juni 2017 pukul 22.00. Aksi ini dilakukan dengan melakukan pembubuhan tanda tangan pada bentangan kain putih berserta orasi.

Aksi ini ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa berita negatif tentang Solok adalah tidak benar seperti yang berkembang secara nasional terkait Kasus Dokter Fiera Lovita sehingga berdampak pada pencopotan Kapolres Kota Solok.

“Masyarakat Kota Solok sangat menyayangkan Kasus Dokter Fiera Lovita ini yang berdampak panjang sehingga menyebabkan dicopotnya Kapolres Solok Kota. Kami tidak mau dengan adanya kasus ini, berdampak pada persepsi orang terhadap Kota Solok menjadi daerah yang tidak aman,” ungkap salah satu penggagas aksi ini Ramadhani Kirana Putra (30) yang juga menjabat sebagai Ketua KNPI Kota Solok.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan aksi Simpatik untuk menunjukkan solok aman, tidak seperti yang didengar oleh masyarakat seluruh nusantara  seakan-akan di solok ini ada intimidasi terhadap Ibu Dokter Fiera Lovita.

“Kami minta kepada Bapak Kapolri, memberi penjelasan terkait pencopotan Ibu kapolres kami, dan Kepada Ibu dokter kami minta supaya menghentikan fitnah kepada daerah kami. Karena persoalan terkait unggahan beliau di media sosisal sudah selesai,” sebutnya.

Selain dihadiri oleh Ratusan Masyarakat, terlihat Aksi ini juga dihadiri oleh Sejumlah anggota DPRD Kota Solok, dimana kehadiran mereka sebagai bentuk dukungan atas kekecewaan seluruh masyarakat Solok terhadap berlarut-larutnya kasus ini sehingga tercemarnya nama solok ditingkat Nasional.

“Jangan persoalan hukum dipolitisasi. Kami mencintai Ibu Kapolres kami, kami menginginkan kapolres kami dikembalikan,” sebut Irman Yefri Adang selaku Wakil Ketua DPRD Kota Solok.

Ia menambahkan, selama ini selalu bekerjasama dengan seluruh jajaran kepolisian dalam setiap kegiatan. Tetapi kenapa hanya karena laporan satu orang yang belum tentu kebenarannya, kota ini harus dikatakan kota yang tidak kondusif dan tidak terkendali padahal kota ini adalah kota Serambi Madinah yang Adatnya Basandi Syarak dan Syaraknya Basandi Kitabullah (red; adat yang didasarkan oleh syariat agama Islam yang syariat tersebut berdasarkan pula pada Al-Quran dan Hadist).

Ditengah berlangsungnya Orasi, sejumlah masyarakat yang berkumpul mendengarkan orasi juga berteriak menyatakan “Solok Aman” dan tuntutan “Kembalikan Ibu Kapolres yang kami cintai”.

Salah satu perwakilan Masyarakat, Edi (60) menambahkan “Lantaran Kasus Presekusi yang berkembang sehingga berdampak terjadinya Pencopotan Kapolres kami. Kami Tidak mau solok dianggap tidak aman, Padahal kami disolok ini tidak ada masalah apa-apa, kita kan NKRI. Kami sangat dirugikan oleh pemberitaan yang tidak sesuai fakta ini.”[Fhajri A. G]