Menuju Kehidupan Akhirat

433
JURNAL SUMBAR — Masyarakat modern yang sebagian diisi oleh paham sekuler, ataupun ateis, banyak yang mempercayai tidak adanya kehidupan sesudah kematian. Sedangkan agama samawi mengajarkan sebaliknya. Ini adalah bentuk keadilan Allah, dengan adanya alam akhirat. Tanpa kehidupan akhirat, manusia tidak punya pedoman dan target-target dalam menjalani kehidupan di dunia.

Firman Allah swt tentang adanya kehidupan sesudah kematian
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S. Ar Rum: 40)
Setelah mengetahui bahwa kehidupan akhirat adalah merupakan Kepastian Allah, maka tugas manusia adalah mengusahakan bekal untuk kehidupan akhiratnya. Menuju kehidupan akhirat, kita harus mengetahui syarat-syaratnya, dan dengan mengetahui persyaratannya, tentu kita harus mempersiapkannya dengan baik,karena itu adalah kehidupan yang kekal, yang mana jika kita tidak menyiapkannya dengan baik, waktu yang terlewat tak bisa diputar ulang, yang ada hanyalah penyesalan. Apakah kita ingin menyesal yang tak akan berguna atau memulai untuk berikhtiar memperbaiki diri dan memperkuat ibadah kita kepada Allah ?
Firman Allah dalam Al Qur’an
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al Qashash: 77)
Dalam firman Allah tersebut, manusia diminta untuk bertawazun, seimbang saat di dunia. Di dunia, kita diminta bekerja untuk kebahagiaan di dunia, dan juga mengusahakan untuk kebahagiaan di akhirat. Allah meminta kita senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, dan juga dilarang berbuat kerusakan di muka bumi.
Dilarang berbuat kerusakan ini bersifat fisik maupun nonfisik. Kerusakan fisik misalnya seperti menebang hutan sembarangan dan tidak melakukan reboisasi, memancing ikan dengan menggunakan peledak, menciptakan polusi udara yang melebihi ambang batas, merusak terumbu karang, dan sebagainya. Sedangkan kerusakan nonfisik bentuk contohnya seperti membentuk gangster dan meresahkan masyarakat, mengkonsumsi narkoba dan melakukan freeseks yang menyebarkan penularan penyakit bebahaya, menyebarkan paham sesat kepada masyarakat, pemerkosaan,  mengadu domba masyarakat, dan sebagainya.
Allah sudah mengingatkan kita agar berhati-hati dalam mempersiapkan kehidupan akhirat kita
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al Hasyr: 18)
Ali bin Abi Thalib berkata, “Dunia berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan ke depan. Keduanya memiliki pengikut. Jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia. Sebab, hari ini adalah amal dan bukan hisab, sedangkan besok adalah hisab dan tidak ada amal.”
Manusia jangan terpancing, terlena, dan tertipu oleh dunia, sehingga melupakan kehidupan akhirat. Banyak di antara manusia yang percaya kepada akhirat, tetapi amat sedikit yang beramal dengan amalan akhirat. Di antara amal akhirat ini adalah shalat, puasa, haji, zakat, infak, sedekah, menjadi orang tua angkat, menjadi orang tua asuh, dan menberikan bea-siswa.
Jika kebutuhan terhadap dunia terus kita turuti, maka tidak akan pernah selesai. Manusia yang rakus tidak akan pernah merasa cukup terhadap apa yang sudah dimilikinya. Tanda kerakusannya itu adalah dengan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tetapi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah kepada sesama. Padahal satu hal yang pasti bahwa semua harta itu akan ditinggalkannya. Saat menjadi mayat, tubuhnya hanya dibalut kain kafan putih. Selanjutnya yang akan menemani kita di alam kubur dan alam akhirat adalah amal kita.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ. وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
(Q.S. Fathir: 29-31)
Dalam ayat tersebut, Allah memberi tahu kita beberapa hal yang menguntungkan kehidupan akhirat kita, antara lain membaca Al Qur’an, mendirikan shalat, serta bersedekah (ayat 29). Kita diminta untuk memohon ampun kepada Allah dan senantiasa menjadi hamba yang bersyukur, hal ini disebutkan Allah, dengan cara menyebut Nama-Nya, Yang Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri (ayat 30). Allah meminta kita mengimani kitab Allah Al Qur’an dan senantiasa bekerja dengan memelihara ketakwaan kepada Allah, hal ini disebutkan Allah dengan menyebut lagi Nama-Nya Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat apa yang dilakukan dan terjadi pada hambaNya.
Wallahu a’lam bishshawaab
=====================================
Materi ceramah ini bisa disimak di Youtube link:
Lebih lengkap dengan ceramah saya, bisa disimak di Youtube Channel saya :