Peran Perempuan dalam Peningkatan Kesejahteraan

478

JURNAL SUMBAR – Seorang perempuan dengan fitrahnya dalam rumah tangga memegang peranan sebagai manajer atas keluarganya. Baik dalam hal pembinaan anak, pengelolaan harta, dan menemani serta melayani suami.

Pengelolaan ekonomi dalam kaitan pelaksanaan tanggung jawab seorang perempuan, tentu untuk melindungi baik dirinya sendiri dalam kesempitan ekonomi, juga dalam hal menyiapkan keturunan mereka di masa depan yang juga mandiri ekonominya.
Firman Allah dalam Al Qur’an
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. (Q.S. An Nisa: 9)
Anak-anak adalah amanah Allah yang harus dijaga dengan baik oleh suami dan istri, baik sandang, pangan, papan, pembinaan akhlak, serta pendidikan tidak hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk masa depannya.
Pilihan seorang perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga atau berkarier, tidak perlu diperdebatkan. Keduanya pilihan bagi yang bersangkutan dengan memperhatikan kemampuan masing-masing. Yang penting tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu, sama-sama bisa dijalankan dengan baik.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. DI era modern seperti ini, kesempatan tersebut semakin terbuka. Perempuan bisa berperan dalam bidang UMKM, kerajinan, pendidikan, perdagangan, baik secara konvensional maupun yang sedang marak berupa online shop.
Kisah Siti Khadijah, istri Rasulullah, yang merupakan saudagar kaya raya, tentu bisa kita jadikan panutan bagaimana dengan kekayaannya tersebut, beliau bisa menyokong dakwah suaminya.
Secara keumatan, peran perempuan dalam kemandirian ekonomi sebaiknya dilakukan dengan berkomunitas. Dengan berkomunitas dan menguatkan jaringan bisnis, peningkatan kesejahteraan akan dapat diwujudkan dengan lebih baik. Beberapa organisasi perempuan di grass root, seperti PKK pun punya program terkait kemandirian ekonomi ini.
Dengan berorganisasi ataupun berkomunitas, kita bisa melakukan perluasan jaringan dan jangkauan bisnis, bertukar ilmu dan informasi, serta berta’awun, saling membantu antarsesama.
Saat ini banyak sekali program pemerintah yang menyokong terwujudnya kemandirian ekonomi perempuan, yang bisa kita maksimalkan. Apalagi dengan adanya Kementerian khusus peranan wanita. Adanya daya dukung pemerintah ini, tetap menuntut inisiatif dari individu masing-masing untuk menjangkaunya. Pemerintah mengakomodir pelatihan-pelatihan, pinjaman dana, sokongan pemasaran dan pembinaan teknik branding, dan sebagainya, yang jika kaum perempuan tidak aktif dalam memanfaatkannya, akan sangat disayangkan.
PKK sebagai organisasi di tingkat pemerintahan terkecil, kelurahan/ desa, bisa diakses untuk langkah pertama. Nanti dari sana, setiap peserta bisa berkembang lebih jauh, dengan membentuk koperasi, usaha kerajinan, dan sebagainya. Pengembangan usaha akan dibina berkelanjutan secara struktural tergantung kapasitas progres usahanya. Hal ini difasilitasi agar terwujudnya kemandirian ekonomi kaum perempuan yang tidak hanya akan berimbas pada kemandirian dirinya sendiri, tapi lebih luas lagi kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarganya, masyarakatnya, dan pada akhirnya turut meningkatkan kekuatan fondasi ekonomi masyarakat dan negara.
Hal ini sesuai dengan pedoman yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. (Hadits shahih riwayat Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, dan Nasa’i)
Jadi, setiap perempuan sangat penting untuk menyadari ini. Bahasa mukmin dalam hadits tersebut, adalah bentuk jamak dari mukmin laki-laki dan perempuan. Artinya kaum perempuan hendaknya tidak merasa lemah dan tak berdaya. Setiap mereka harus mau bersungguh-sungguh untuk memberi manfaat baik bagi dirinya, keluarga, dan orang sekitarnya. Yang demikian itu, sangat dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.
Sekarang, mari kita introspeksi pada diri kita sendiri, apakah mau menjadi perempuan yang lemah, tak berdaya, serta pasrah pada keadaan, atau ingin menjadi perempuan yang memiliki semangat, berdaya untuk membuat perubahan dan berkontribusi positif bagi orang banyak, dengan iming-iming dicintai oleh Sang Maha Pencipta, Allah Al Kariim? Silahkan direnungkan dan dijawab pada diri masing-masing
Wallahu a’lam bishshawab.