Widayatmo, Sosok Politisi nan Sederhana dan Bersahaja

736

JURNAL SUMBAR | Padang — Belakangan ini kita masyarakat rindu akan hadirnya sosok pemimpin yang merakyat, sederhana dan bersahaja. Kerinduan itu yang berlangsung lama membuat rakyat lelah dan melampiaskan melalui Pemilu Legislatif maupun Pilkada. Pelampiasan itu berbentuk money politic dan golput setiap perhelatan demokrasi berlangsung.

Nah, kali ini Jurnal Sumbar menemukan sosok kesederhanaan dalam diri politisi asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Widayatmo yang merupakan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat asal Daerah Pemilihan yang meliputi Kabupaten Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya serta Kota Sawahlunto dan Padang Panjang.

Kesederhanaan telah tertanam dalam diri Widayatmo sejak dia memulai bersinggungan dengan politik praktis mulai dari menjabat sebagai anggota DPRD Dharmasraya dua periode hingga saat ini menjabat sebagai anggota Badan Anggaran DPRD Sumbar.

Dalam rutinitas yang cukup padat di Bulan Ramadhan ini, Widayatmo tetap melakukan pekerjaan rumah tanpa perlu meminta bantuan orang lain. Semuanya dia lakukan seorang diri meski dengan kedudukan dan jabatan yang dia emban sekarang bisa mempekerjakan seorang asisten.

Mantan ketua DPD PKS Dharmasraya itu pun tak sungkan membeli takjil dan menyiapkan sendiri menu untuk berbuuka puasa itu. Tak terlihat keluh-kesah dalam raut wajahnya meski jauh dari keluarga dengan embel-embel anggota dewan melekat dalam dirinya. Bahkan dia juga menjemput sendiri pakaian yang dia cuci di Londry di bilangan GOR Haji Agus Salim.

Saya sendiri kagum dengan sikap dan cara Widayatmo menjalani kehidupan yang jauh dari gaya elitis sebagaimana sikap pejabat kita sekarang yang selalu minta dilayani dan dihormati serta belagak anak gedongan. Sedangkan Widayatmo jauh dari kesan tersebut.

Saat saya berkunjung ke Mess DPRD Sumbar beberapa waktu lalu dan menemani mantan aktivis Islam kampus itu saya cukup terkesan karena politisi yang saya kenal cukup lama tetap hidup dalam kebersahajaan.

Mas Wid, panggilan akrab Widayatmo mengisi waktu senggangnya dengan membaca dan mengaji serta melafadzkan asma Allah. Ngaji dan zikir merupakan rutinitas Widayatmo pada Ramadhan kali setelah mengerjakan tugas dan fungsi dia sebagai wakil rakyat di parlemen. Tak jarang pula saya melihat dia tertidur dengan Alquran dalam dekapan tangannya.

Karena ketaatan kepada Allah SWT itu, saya pernah menyampaikan kalimat candaan, “Lantaran Zikir dan ketaqwaan inilah Mas Wid mendapat hadiah PAW dari Allah. Jika tidak, mungkin teman Mas Wid itu tak kan maju di Pilkada.”

Sembari tersenyum, Mas Wid menjawab bahwa dia hanya melakukan kehidupan yang telah digariskan Sang Pencipta dan apabila diberi amanah dalm sebuah jabatan maka itulah jalan takdir yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab.

Ketika saya kembali ke Mess DPRD dini hari saya mendapati Mas Wid tidur di lantai dengan beralaskan busa. Saya bertanya, kenapa tidur dibawah? Padahal cuaca di Padang malam itu sangat dingin karena dilanda hujan lebat disertai angin kencang.
Mas Wid menjawab “Kilauan cahaya lampu kamar membuat saya susah tidur.”

Saya tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya karena Widayatmo memilih tidur dilantai agar Spring Bed yang biasa dia tempati diperuntukan kepada saya yang malam itu menumpang nginap di kamar tersebut.

Kejadian tersebut mengingatkan tentang ketauladanan Nabi Muhammad dalam memuliakan tamu dan Widayatmo mengaplikasikan itu juga dalam kehidupannya.