Cerpen “Kiai Mustofa” dan Puisi “Bismillah, Kami Melangkah di Tanahmu” Juarai Sayembara Cerpen dan Puisi Rakyat Sumbar 2017

225

JURNAL SUMBAR | Padang – Cerita pendek (Cerpen) yang disajikan Muhamad Muckhlisin, mahasiswa STKIP Al-Bayan, Rangkabitung, Banten, serta puisi karya Abdul Warits, mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura ditetapkan sebagai juara pada Sayembara Cerpen dan Puisi Rakyat Sumbar 2017, bagi pelajar dan mahasiswa tingkat Nasional.

Selain menetapkan juara I, enam juri dari dua kategori lomba yang diusung Harian Umum Rakyat Sumbar, koran harian terbitan Bukittinggi, Sumbar ini juga menetapkan juara II dan juara III serta nominasi.

“Khusus juara tiga dan nominasi, jumlah pemenangnya berbeda,” kata Ketua Panitia Revdi Iwan Syahputra, yang juga pemimpin redaksi Harian Umum Rakyat Sumbar.

Setiap kategori ada tiga juara III sedangkan untuk nominasi juga berbeda. Ada lima nominasi cerpen dan 18 nominasi puisi, “Juara satu hingga tiga memperoleh hadiah berupa uang tunai dan sertifikat,” katanya sembari menyebutkan, khusus juara satu dan dua juga mendapatkan piala dan semua naskah pemenang dan nominasi akan dimuat di Harian Umum Rakyat Sumbar.

Sayembara mengangkat tema, Yuk, Kita Hijrah ke Syariah, bertepatan dengan momentum tahun baru hijriah. Terhadap naskah yang diterima masuk, tiga juri puisi; Esha Tegar Putra, Syarifuddin Arifin dan Sulaiman Juned, memberikan catatan bahwa sebagian besar peserta terjebak dengan tema, sehingga memaksakan memasukkan kata-kata syariah.

Puisinya rata-rata berupa doa, menggurui, perintah, imbauan dan pernyataan, pilihan diksi perlu ditingkatkan serta harus tetap memperhatikan bahwa puisi harus ada etika, estetika dan logika.

“Tema tak terlalu mengikat, tapi peserta terlalu kaku dalam berbahasa. Tak ada kebaruan dari tafsir mereka terhadap tema,” kata mereka menjelaskan.

Sedangkan tiga juri cerpen; Yusrizal KW, Gus TF dan Muhammad Subhan menilai, tema yang diajukan diterjemahkan secara verbal oleh peserta sehingga mereka terjebak dan terbeban dengan tema. Padahal tema yang ditawarkan panitia intinya adalah memperbaiki prilaku yang keliru. Naskah mampu menyasar dengan mengangkat yang lebih substansi. Ada kualitas yang sangat bagus. Ada yang menampilkan cara bercerita sufi, tidak ada yang kebetulan. Perumpamaan berangkat dari pengalaman.

“Panitia akan menghubungi pemenang dari email panitia terlebih dahulu,” jelas Ope sembari menyebutkan, tidak ada biaya apa pun yang dibebankan kepada pemenang, nominasi dan peserta. rilis