Road Map Politik Indonesia, Politikus, Pengusaha dan Wartawan

Oleh: Awaludin Awe

287
Awaluddin Awe

Saya sungguh tercekat oleh kasus yg menimpa Bung Indra Jaya Piliang (IJP). Betapa tidak, seorang tokoh muda politik yang cekatan dan trampil bermain di pentas nasional, akhirnya harus terperosok dan jatuh pada titik yang sangat tidak diduga-duga.

Bagi saya pribadi dan teman teman aktivis dimana saja, pastilah berkata bahwa apa yang menimpa IJP sangat disesalkan dan sungguh tidak diduga sama sekali. Dapat dipastikan setiap tokoh besar dan politikus mengalami depresi dan stress akibat efek lakon yang dimainkannya.

Pastilah jantung para politisi akan berguncang hebat, setiap kali terjadi manuver atau pertarungan isu di seputaran mereka. Tetap karena saraf mereka baja, maka mereka banyak yang baik baik saja, meski tak sedikit yang ambruk, sakit dan kemudian berpulang ke rahmatullah.

Cara berpikir yang sangat rasional, bahwa ini sebuah game, permainan, maka para politisi mahir jarang terganggu perasaan, pikiran dan imaginasinya. Setelah keluar ruang kerja, mereka sangat bebas menikmati kehidupan, termasuk kehidupan pribadi.

Bahwa banyak para politisi menyukai kehidupan malam ya, karena di situ mereka bisa melepaskan lelah, berkaraoke dan menikmati berbagai minuman penghangat tubuh.

Saya pernah punya pengalaman pribadi, saat menjadi wartawan Bisnis Indonesia, diajak Uda Basril Djabar, saat masih menjadi Ketua Kadin Sumbar, mengikuti sejumlah tour promosi Sumbar ke Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan dan Hongkong. Rata rata welcome party dan dinnernya diawali dan diakhiri dgn minuman penghangat, atau beralkohol berat.

Saat dijamu Walikota Pusan, Korsel, saya duduk satu meja dengan Dirut Bank Nagari Suharman, waktu itu, saya hanya sempat satu kali menenggak minuman saat sang walikota menawarkan toast dari panggung kehormatan. Ya ampun, tenggorokan saya terasa terbakar menenggak seperti anggur putih itu. Akhirnya, sejumlah ajakan toast lain, anggurnya saya buang ke lantai.

Saat menghadiri Munas Kadin Indonesia di Bali, saya diajak Uda Basril Djabar, mengikuti acara penutupan di atas kapal pesiar. Di situ saya lihat, seorang tokoh besar Indonesia sempat sempoyongan dan nyaris terjatuh saat sedang menari bersama dengan Putri Indonesia. Demi menghormati sang tokoh, dia segera dibawa turun kapal ke hotel, dan acara party ditutup.

Saya juga banyak bertemu dengan calon jenderal saat menikmati kehidupan malam, dan akhirnya mereka tetap jadi jenderal yang sesungguhnya.

Apa pesan yang ingin saya katakan dengan perumpamaan itu, bahwa antara politikus, pengusaha, wartawan dengan kehidupan malam bak mata uang bersisi dua. Bagi saya pribadi, sebagai pimpinan media, terus terang saya akui bahwa perkuatan hubungan bisnis media yang saya pimpin banyak dipengaruhi oleh kehidupan malam, karena pada saat itulah saya bertemu dedengkot bisnis, dan menawarkan kerjasama.

Saat Pangkostrad Eddy Rahmayadi, masih menjadi Dandim di Batam, saya dan pimpinan media tempat kami bekerja, sempat bersitegang dengan beliau, terkait dgn pemberitaan pemilihan legislatif yg mengkaitkan peran TNI. Beliau mengutus Kasdimnya, Suparno, bertemu saya. Intinya, pak Dandim melalui Kasdim meminta berita itu dihentikan. Saya bilang, tidak ada hak Dandim menghentikan berita itu karena hal itu memang terjadi.

Akhirnya saya dan pimpred serta Kasdim Suparno sepakat berita tetap terus naik, tetap dengan menjelaskan porsi TNI yang sebenarnya. Selesai, pak Eddy Rachmayadi memerintahkan Kasdimnya meneraktir saya dan pimpred kami, ke sebuah karaoke ternama di Batam.

Selama menjalani kehidupan malam, saya sama sekali tidak berniat merasakan, mencicipi dan bahkan mengkonsumsi narkoba sekalipun juga. Padahal, kita berada di sarangnya, dan saya tau siapa pengelolanya.

Tetapi ikhtiar dalam hati tidak ingin hancur akibat mimpi tak jelas, saya berhasil keluar dari Batam dangan darah tak ternoda narkoba.

Saya juga berharap sama dengan para politisi muda saat ini. Bahwa tuntutan profesi kerap mengantarkan kita pada situasi yang tidak bisa kita tolak, dan harus kita lakoni, maka bersikap hati hati menjadi sangat penting. Kita harus sadar bahwa profesi kita cenderung menjadi penarung masa depan kita sendiri. Jika kita larut, maka akan merugikan kita, keluarga dan tempat kita bekerja.

Publik tidak pernah tahu, apa alasan dan argumentasi kita. Saat kita terjatuh, terperosok, publik hanya tahu, kita tak pantas lagi dihargai. Kita langsung masuk tong sampah.

Bagi pemilik masa depan bangsa ini, termasuk adik-adik yang berkiprah di pentas nasional dan lokal, ayo jadikan kasus yang menimpa saudara kita IJP sebagai pembelajaran dan masukan perbaikan di masa depan.

Saya menawarkan, mari kita bentuk road map politik Indonesia bebas narkoba dan KPK!

(Penulis adalah wartawan senior Sumatera Barat)