Nasib Baik Novanto

Oleh: Erizal

187
Erizal

Dalam kondisi sakit, lemah, Setya Novanto justru terlihat sehat, kuat. Dalam kondisi kuat, sehat, KPK justru terlihat lemah, sakit. Jadi siapa yang sebetulnya kuat dan lemah dan siapa yang sebetulnya sakit dan sehat? Kalau tak ditelisik dari dalam, sehat dan sakit kadang susah dideteksi.

Novanto sakit, lemah, itu fakta. Beberapa hari ini, dirawat di rumah sakit. Fotonya sedang dirawat, lengkap dengan peralatan yang menempel di tubuhnya, beredar luas. Meme beredar luas pula, yang menggambarkan seolah-olah ia pura-pura sakit, lemah, padahal sebetulnya sehat, kuat.

Anggapan itu jamak beredar apalagi di media sosial. Hampir tak ada yang percaya bahwa Novanto betul-betul sakit, lemah. Bahkan, di internal Golkar sendiri, anggapan itu juga ada. Ada yang sudah diganti, dan dipecat. Sakitnya ketua umum, kerap dimanfaatkan pihak-pihak tertentu.

“Jangan begitulah. Orang sakit jangan dituduh macam-macam, dituduh pura-pura, apalagi hanya strategi politik belaka.” Ini tentu orang yang berempati terhadap Novanto. Tapi, jumlahnya, pasti sedikit. Yang banyak, itu tadi, anggapan ia sehat, kuat. Sakit cuma strategi buat menghindar.

Bukan Novanto seorang, tersangka KPK yang mendadak sakit, lemah. Yang cengengesan, senyam-senyum, juga ada. Tapi, Novanto bukan belum pernah diperiksa. Beberapa kali diperiksa, bahkan berkali-kali dalam berbagai kasus. Jika sakit untuk lari dari pemeriksaan, tidak jugalah ya.

Justru Novanto terlihat kuat, sehat, karena berkali-kali diperiksa KPK, berkali-kali juga ia ternyata, lolos. KPK yang tidak sanggup menjerat Novanto! Tak hanya saat ini, juga di masa lalu. Berstatus cekal, tapi belum diapa-apain. Bila benar cukup bukti, mestinya Novanto tidak selamat.

Novanto tidak selamat, justru dalam sidang etik MKD, DPR. Ia buru-buru mengundurkan diri sebelum diputuskan berhenti. Jadi, ia bukan kuat, bukan tak tersentuh. Lihai iya. Dingin, dan yang penting, nasibnya baik. Mundur selangkah, buat maju beberapa langkah. Itulah yang terjadi.

Sebetulnya, KPK telah mengambil ancang-ancang ingin membuat opini tandingan apakah Novanto betul-betul sakit atau malah sehat? Meme-meme itu begitu mengganggu. KPK tentu tak bekerja berdasarkan meme. Sayang, status tersangka Novanto keburu dibatalkan oleh pengadilan.

Giliran hakimnya yang dibilang seperti sakit dan lemah. Cepi Iskandar diangkat, dikorek-korek. Dulu hakim Sarpin Rizaldi yang mengadili Budi Gunawan juga begitu, malah lebih gaduh. Sampai juga ke Sumbar, Sarpin orang Minang. Ia diusir secara adat, tapi haw-haw itu ditarik lagi.

KPK bisa saja menerbitkan surat penyelidikan sekaligus penyidikan baru dan menetapkan kembali Novanto sebagai tersangka. Itu bisa dilakukan KPK dalam waktu, kurang dari seminggu. Dan apabila minggu ini Novanto sudah keluar dari rumah sakit, KPK bisa langsung menahannya.

Inilah sepertinya yang akan terjadi. Tapi, mungkin tak secepat itu. Seminggu terlalu cepat. Perlu super hati-hati. Ini yang dilawan orang lihai, dingin, dan yang penting, sering bernasib baik. Surat cekal baru sudah dibuat dan sudah dikirimkan. Novanto juga sudah keluar dari rumah sakit.

Ini baru yang tergambar tidak hanya kekuatan, tapi juga kedigdayaan KPK. Sudah pernah diterapkan kepada tersangka KPK, Ilham Arief Sirajuddin, bekas Walikota Makassar. Menang di praperadilan, lalu ditersangkakan kembali, dan terjerat. Tapi, jika Novanto lolos lagi, bagaimana?

Maka, KPK yang terlihat sakit, lemah. Tapi siapa yang berani mengatakan itu? KPK sakit, lemah. Siap-siap saja diserbu buser, suporter, atau semacam laskar KPK. KPK terlanjur dianggap kuat. Dan Undang-Undang, juga menjamin hal itu. KPK lembaga super bodi tanpa ada pengawas.

Siapa bilang? Ada publik, ada RDP dengan DPR, dan ada lembaga pengadilan itu sendiri sebagai tempat pengujian kinerja KPK. Praperadilan memang ada yang lolos, Pengadilan belum.

Tapi, perlu hati-hati juga melawan orang yang bernasib baik. Di dunia ini yang tak boleh dilawan itu, ada tiga. Yakni, orang gila, orang bodoh, dan orang berhasib baik. Sampai kapanpun, tak akan menang melawan tiga orang ini. Malah, Anda bisa lebih gila, bodoh, dan berhasib buruk. (Penulis adalah pengamat politik tinggal di Padang, Sumatera Barat)