Minang Diaspora Dorong Kuliner Minang Go Internasional

366
FGD Minang Diaspora Network Global membahas peluang bisnis kuliner Minang di Cikang Resto, Menteng Jakarta. Poto: Ist.

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Setelah membahas prospek pariwisata Sumatera Barat, Minang Diaspora Network Global (MDN-G) kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Dinamika, Peluang dan Tantangan Duni Kuliner Minang”. FGD yang di-support oleh  organisasi Himpunan Alumni SLTA Sumatera Barat (HASS), Forum Alumni Mahasiswa Minangkabau (FAMM), dan Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Minangkabau (BK3AM) ini digelar pada 31 Oktober 2017 lalu di Graha Anam, Cikang Resto, Menteng, Jakarta.

Banyak praktisi kuliner Minang yang hadir dan berbagi ide dan gagasan untuk memajukan kuliner Minang. Sebagai tuan rumah, Dr. Ivan Rizal Sini menggagas perlunya dibentuk Minang Culinary Industry Board, yaitu badan industri yang diisi oleh pakar dan pengusaha kuliner Minang. “Badan ini nantinya memberikan masukan dan rekomendasi untuk kemajuan kuliner Minang sehingga bisa go internasional,” sebutnya.

Dikatakan Ivan Rizal, industri kuliner adalah industri yang melibatkan banyak UMKM seperti peternakan ayam dan sapi, serta sayur mayur dan buah-buahan. “Rantai bisnis ini akan menjadi peluang bisnis bagi para pelaku UMKM Minang, baik yang ada di ranah maupun di rantau,” ujarnya. “Dan, industri kuliner Minang akan menunjang industri pariwisata Sumbar, sekaligus akan menjadi agen promosi pariwisata,” tambahnya.

DR Ivan menawarkan konsep resto Minang yang baru seperti suasana cafe. Dimana sambil bisa menikmati masakan Padang, tamu juga bisa menyeruput kopi khas Minag, seperti kopi Solok Rajo dan kopi-kopi Sumbar lainnya. Cikang Resto merupakan salah satu terobosan Dr. Ivan Rizal dengan menyajikan makanan Padang sesuai pesanan, bukan disajikan seperti restoran Padang lainnya.

“Konsep ini untuk menangkap peluang pasar anak-anak muda yang suka nongkrong dengan fasilitas wifi, dan tamu-tamu luar negeri yang lebih memilih masakan sesuai pesananan, bukan yang dipilih dalam sajian yang dihidangkan,” papar Dr. Ivan.

Yanti  Chaniago, Owner Resto Minang di Doha, Qatar mengajak pengusaha Minang untuk mencoba buka usaha kuliner di luar negeri, termasuk di Doha Qatar. “Saat ini sudah ada beberapa resto Minang di Qatar, mari mencoba berusaha di sana, karena segmen pasarnya sudah mulai lumayan,” ajakanya. “Kita juga harus menangkap peluang piala dunia (sepakbola) yang akan dilaksanakan tahun 2020 di Doha Qatar,” tambahnya.

FGD yang mendapat support dan sumbang saran dari Osmena, Sutan Tridarsa Rangkuti, Yosrizal Chan, Zahrul, Maskur Chaniago, H. Asmun, Eddie Moeras dan Fikri Bareno itu berbuah kesimpulan, yaitu perlu dibentuk sebuah badan industri kuliner yang terdiri pakar-pakar kuliner dan pengusaha resto Minang untuk memajukan industri kuliner Minang segingga bisa go internasional. Dan, harus ada sinergi antara sesama perantau Minang serta koordinasi dengan Pemprov Sumbar dan instansi terkait lainnya.

Executive Director Minang Diaspora Netwot Global, Burmalis Ilyas kepada Jurnal Sumbar mengatakan, bisnis meeting dan FGD seperti ini akan diadakan berkala per 3 bulan. “Bisnis meeting ini juga merupakan wadah bagi para perantau untuk saling berkenalan dan memperkenalkan bisnisnya masing-masing, dan diharapkan sesama perantau terjadi sinergi dan kerjasama sesuai dengan bisnisnya masing-masing,” ujarnya.

“Minang Diaspora hadir guna memfasilitasi para perantau Minang sedunia untuk bersama-sama memajukan potensi Minangkabau,” pungkasnya. Enye