Persiapan TdS di Sijunjung “Terasa Hambar”

317

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Persiapan helat besar Tour de Singkarak (TdS) 2017 di Kabupaten Sijunjung terkesan masih hambar, baik secara fisik maupun non fisik. Bahkan sejumlah ruas jalan masih banyak yang rusak dan bergelombang.

Tak heran jika masyarakat banyak kurang paham soal pelaksanaan event berskala internasional tersebut.

Hal ini terlihat dari minimnya umbul-umbul atau atribut simbol kemeriahan penyambutan TdS, sosialisasi, serta publikasi. Begitupun pembenahan area/ lokasi yang nantinya akan menjadi titik kumpul bagi pihak penyelenggara, tamu dan pengunjung. Perbaikan sarana hiburan dan obyek rekreasi, penginapan yang sesungguhnya termasuk obyek vital, hinngga kemarin seolah masih belum terperhatikan.

Sejatinya kawasan Sijunjung didaulat menjadi salah-satu daerah penyelenggara TdS 2017 untuk Etape 3 tanggal 20 November mendatang, rute Muaro Sijunjung – Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya. Start di Muaro Sijunjuang – Finish Pulau Punjuang, dengan jarak tempuh 100 km. Maka idealnya saat ini daerah tersebut sudah memiliki kesiapan.

“Kesiapan penyelehgaraan even TdS tahun sekarang terkesan dingin, hingga masyarakat banyak yang tidak paham bagaimana sesungguhnya perhelatan akbar tahunan tersebut,” tukas seorang Tokoh Masyarakat Muaro Sijunjung, Hen Bandaro.

Fenomena ini seakan menunjukan jika Pemkab Siunjung melalui instansi-instansi terkaitnya terkesan kurang semangat mendukung kemeriahan TdS 2017, sesuai jadwal di Sumbar akan berlangsung selama sepekan tanggal 18 – 26 November mendatang.

Kecuali halnya kesiapan untuk jalur lintasan Sijunjung – Dharmasraya, dimana ruas jalan yang semula rusak secara intensif tampak diperbaiki oleh Pemprov Sumbar, bahkan di beberapa titik kawasan Tanjung Gadang masih dalam tahap pengerjaan. Diantaranya dalam bentuk tambal sulam, serta rigit beton untuk kategori labil/rusak parah.

Mestinya panitia lokal sudah turun ke bawah melakukan sosialisasi dan koordinasi pada masyarakat, supaya masyarakat juga ikut bersiap-siap untuk memeriahkannya. Terutama halnya terhadap masyarakat yang tinggal di pinggir jalan, maupun tempat-tempat strategis sebagai penunjang kemeriahan TdS.

Ditambahkan Pemerhati dan Aktivis Pariwisata Sijunjung, Juniwandri, pada titik strategis seperti pusat keramaian dan persimpangan bila perlu dipasang atribut spesifik untuk pemanis, ditambah lampu hias, baliho, serta miniatur-miniatur khas. Khusus untuk lokasi wisata juga perlu dibenahi dan dipercantik supaya nantinya dapat menarik perhatian segenap pegunjung yang datang.

“Untuk kemeriahan TdS di bumi ‘Lansek manih’ sesungguhnya Pemkab Sijunjung masih punya waktu 4 hari lagi sebelum hari H,” tukasnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sijunjung, Yofritas, membantah jika persiapan TdS disebut dingin. Justru menurutnya upaya menyukseskan helat akbar olahraga wisata dunia di Sijunjung (Etape 3) oleh Dinas Pariwisata seempat sudah dirasa maksimal. Namun segala sesuatunya memang tidak bisa sepenuhnya diakomodir, melainkan pembagian kerja dan tanggung jawab sudah dibagi-bagi.

“Pola penggarapan program kita berjejang mulai dari Dinas, Pemerintah Kecamatan, Nagari hingga jorong. Nah, untuk sosialisasi ke bawah itu lebih menjadi kewenangannya Walinagari dan jajaran,” jelasnya.

Disebutkannya pula, hari kemarin pihaknya bersama tim terpadu juga turun ke lapangan untuk memastikan kondisi jalan, serta ke Kampung Adat Sijunjung, Nagari Silokek yang sengaja dipersiapkan menjadi daerah kunjungan spesifik bagi pengunjung natinya. Ditambah pemasangan baliho besar di beberapa titik, seperti Kiliran Jao, Tanjung Gadang, hingga pusat ibu kabupaten kawasan Muaro Sinunjung.

“Kita rasanya sudah berusaha maksimal mesukseskan TdS untuk Sijunjung,” imbuhnya lagi.

Bupati Siunjung, Yuswir Arifin, atas nama pimpinan daerah punya target besar dalam upaya pengembangan sektor kepariwisataan di Sijunjung. Dimana kabupaten ini bahkan memiliki sebuah kawasan spesifik yang tak kalah memesona dibanding daerah lain, yakni kawasan wisata alam Nagari Silokek. Saptarius