Di Jepang, Tiga Pemuda Indonesia Dukung Pembuatan Pesawat R80 BJ Habibie

556

JURNAL SUMBAR | Tokyo – Tiga pemuda Indonesia sepakat menyelenggarakan Diaspora Ceknricek.com. Kesepakatan itu diambil dalam pertemuan di Tokyo, negeri sakura, Sabtu pagi (6/1).

Ketiganya adalah CEO Ceknricek.com Fikar Rizky Mohammad, Ketua Perhimpunan Ilmuwan Indonesia Jepang Ivananto dan pengusaha muda asal Tulungagung Mahmudi Fukomoto.

Menurut Fikar, dalam pertemuan itu Mahmudi menyatakan akan menyumbang pembuatan pesawat R80 yang digagas mantan Presiden BJ Habibie.

Walau nama belakangnya terdengar seperti nama orang Jepang. Tapi, Mahmudi adalah orang Indonesia tulen yang sukses di Jepang.

Sebelum terdampar di negeri Oshin, Mahmudi pernah mencoba peruntungan di Pulau Dewata, namun gagal karena tidak memiliki kemampuan bahasa asing satu pun.

Akhirnya dia memutuskan untuk belajar bahasa Jepang di Bali agar bisa diterima bekerja di hotel.

“Setelah belajar beberapa bulan. Guru saya bilang, kamu bodoh sekali. Akhirnya saya disuruh praktek dengan orang Jepang. Teman guru saya,” jelasnya.

Di sinilah dia bertemu dengan Noriko, gadis Jepang yang tinggal di Bali. Menjadi teman ngobrol dan sering bertemu setiap hari, membuat dua anak muda ini saling jatuh cinta dan menikah.

Mahmudi lantas hijrah ke Jepang bersama istrinya. Tanpa pengalaman dan kemampuan bahasa Jepang yang masih banyak salahnya, Mahmudi harus berjuang untuk hidup di negeri samurai ini.

Pria berkulit sawo matang ini melakukan segala hal untuk menyambung hidup. Mulai dari menjadi kuli bangunan, hingga petugas kebersihan di sebuah hotel bintang tiga.

“Saya digaji berapapun mau. Yang penting diajarin Bahasa Jepang. Selama 1,5 tahun saya bekerja dan belajar, kemudian saya keluar,” cerita Mahmudi yang menetap di Jepang sejak 2001.

Kehidupannya mulai mendapat titik terang saat dia memiliki usaha di bidang konstruksi.

Sebagai seorang yang masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) di perusahaan jasa konstruksi, cukup sulit baginya untuk mendapatkan proyek-proyek dan pekerjaan di Jepang.

Untuk memperlancar usahanya, Mahmudi harus menggunakan nama Jepang. Nama keluarga istrinya pun yang dipilihnya.

“Fukumoto nama dari mertua saya. Saya minta izin pakai nama itu. Karena itu mertua laki-laki saya simpati,” tambahnya.

Saat ini perusahaan yang dipimpinnya berkembang di bidang biro perjalanan hingga pembuatan mainan anak-anak. Untuk usaha konstruksi, semua karyawannya adalah warga negara Jepang. Sedangkan untuk dua bisnis barunya,
ia berusaha menggandeng WNI yang sedang bekerja di Jepang, namun memiliki niat dan keinginan menjadi pengusaha.

Rizky Mohammad dan Ivananto yakin kesediaan Mahmudi bergabung akan mempermudah upaya mendukung karya anak bangsa ini.

Ketiganya berangkat ke Sapporo untuk bertemu dengan diaspora Indonesia lainnya. Rilis