Blusukan Jokowi dan Level Kecapresan IP

Oleh A.R. Rizal

1454
A.R. Rizal

TULISAN Gubernur Sumbar Irwan Prayitno berjudul ‘Blusukan Presiden Jokowi’ akhir-akhir ini viral di lini massa. Semula artikel ini dimuat sebagai komentar di Harian Singgalang. Ketika di-upload di media sosial artikel ini ramai di-share. Muncul di group orang Minang dan menjejaring di berbagai group medsos lainnya. Rata-rata memberikan apresiasi positif terhadap tulisan ini.

Tulisan Gubernur Irwan secara tekstual berisi puji-puja terhadap Presiden Jokowi. Bagi para fanatik Pilpres 2019, tulisan ini kemudian dijadikan semacam alat untuk mengampanyekan dukungan. Sebagai kader tulen PKS yang menjadi partai oposisi bagi pemerintahan Jokowi saat ini, tulisan IP disambut sorak-sorai oleh para pro Jokowi. Lihat saja, tokoh penting PKS saja sudah memberikan sinyal mendukung Jokowi. Ini adalah amunisi yang luar biasa di Pilpres nanti. Amunisi dari seorang Irwan Prayitno, Ketua Tim Pemenangan Prabowo yang membuat Jokowi kalah telak di Sumbar pada Pilpres 2014.

Tentu saja ada yang mengaitkan tulisan IP sebagai bentuk dukungan terhadap Jokowi. Tapi, dalam relasi hubungan hirarki pemerintahan, wajar saja Gubernur Irwan menyanjung Presiden Jokowi. Sebagai gubernur, ia adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat. Puja sanjung sebagai perpanjangan tangan belum tentu berarti sebagai bentuk dukungan politis di Pilpres. Lagi pula, pantaslah Gubernur Irwan menjadi perpanjangan tangan masyarakat Sumbar untuk menyampaikan terima kasih atas apa yang telah dilakukan Presiden Jokowi setelah kunjungan tiga harinya dalam peringatan Hari Pers Nasional 2018 yang dipusatkan di Kota Padang. Kedatangan Jokowi ikut membawa sejumlah proyek besar untuk Sumbar. Mulai dari pembangunan jalan tol, revitalisasi seribu rumah gadang, hingga sertifikasi untuk seluruh masjid dan mushalla di Sumbar. Karena Jokowi gagal mendapatkan anugrah gelar kebangsawanan dari Istano Pagaruyung, pantaslah Gubernur IP menyanjung-puji Presiden Jokowi. Ini sesuai dengan etika orang Minang yang menempatkan pemimpin ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah.

Lalu, apakah patut menduga makna lain dari tulisan kecil Gubernur IP itu? Makna lain itu misalnya terkait dengan dukungan dan haluan politik? Dalam puncak peringatan HPN di tepi Danau Cimpago, Gubernur IP memang sempat kehilangan momentum. Ia kalah sama Ketua PWI Margiono yang terang-terangan meminta masyarakat Sumbar memilih Jokowi di Pilpres 2019. Kalau Gubernur IP menyampaikan dukungan yang sama, pastilah ia akan disebut latah. Sebagai penjawab tanya atas pematang yang sudah diambil orang lalu, pantaslah Gubernur IP memuji-sanjung Presiden Jokowi dalam tulisannya. Kalau itu bentuk dukungan politik, Gubernur IP pantas melakukannya.

Ini cermin dari dinamisnya orang Minang berpolitik. Di masa lalu, Gubernur Gamawan Fauzi berbaik-baik dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di tengah jalan masa kegubernurannya, Gamawan kemudian ditarik ke Jakarta oleh SBY untuk menjadi Menteri Dalam Negeri. Kalau sekarang Presiden Jokowi hendak membawa IP ke Jakarta, sangat pantaslah. Terlepas dari IP adalah kader PKS, pilihan Presiden Jokowi menjadikan Gubernur Sumbar sebagai menteri adalah tradisi yang lazim di ranah ini. Dahulu-dahulu, Gubernur Sumbar selalu menjadi menteri, siapapun presidennya saat itu. Kalau IP jadi menteri, itu berarti ia meneruskan tradisi yang sudah-sudah. Ia membakit batang terandam.

Walaupun IP tak berminat menjadi menteri, walaupun selalu disebut-sebut pantas menjadi Mendiknas, Mensos atau Menteri Agama, tulisan IP yang memuji-puja Presiden Jokowi bisa diartikan sebagai kebesaran sikap politik IP. Irwan Prayitno pantas menulis tentang presiden. Hal itu menunjukkan bagaimana level IP sendiri di kancah perpolitikan. Tak hanya dalam percaturan politik lokal, tapi juga nasional.

Irwan Prayitno adalah salah satu dari sembilan bakal calon presiden yang akan diusung PKS di PIlpres 2019. Nama IP sejajar dengan Presiden PKS Sohibul Iman, Tifatul Sembiring, Anis Matta, Salim Segaf Aljufri, Mardani Ali Sera, Ahmad Heryawan, Hidayat Nur Wahid, dan Muzammil Yusuf. IP itu termasuk dalam jajaran elit ‘sembilan naganya’ PKS. Tulisan IP tentang presiden menjelaskan tentang level kecapresannya. IP hendak mengatakan, ia adalah lawan Jokowi di Pilpres 2019. Namun, bisa juga berarti mengajak Jokowi bersanding di Pilpres. IP sebagai calon wakil presiden untuk mengulangi dwitunggal Soekarno-Hatta. (Penulis adalah Wartawan Utama di Padang)