Liburan ke Eropa, Burmalis Ilyas Terus Dorong Resto Minang Go Internasional

541
Burmalis Ilyas poto bersama di Restoran Borneo milik perantau Kalimantam di Paris. Ist.

JURNAL SUMBAR | Paris – Burmalis Ilyas adalah sosok tokoh muda Minang yang peduli dengan kampung halamannya. Direktur Eksekutif Minang Diaspora Metwork Global itu terus mendorong kuliner Minang go internasional. Hebatnya, hal ini dilakukannya dengan memanfaatkan liburannya di Eropa. Semua jaringan orang Minang dikunjunginya dan diajak membanngun restoran Minang di kota-kota besar dunia.

Minggu lalu, sehabis silaturrahmi dengan Diaspora Minang Italia, Burmalis Ilyas berkunjung ke Paris Perancis. Burmalis dijamu oleh Diaspora Minang Paris Perancis, diantaranya Uni Yet dan suami, Uni Isna, Uni Deni Endriani, dan Uni Erita (Diaspora Minang Belanda) dan suami yang kebetulan membawa tour keliling Eropa di bawah Bendera Salero Tour.

Pertemuan Diaspora Minang Paris Perancis ini berlangsung di Resto Bornoe A Paris yang terletak di jantung kota Paris milik orang Pontianak Kalimantan. Direktur Eksekutif Minang Diaspora sengaja meminta agar pertemuan diadakan di Resto Borneo A Paris guna menggugah orang Minang, ternyata Resto Borneo/Kalimantan lebih dulu hadir di Kota Paris sebagai pusat wisata dunia, dan ternyata sampai saat ini Resto Minang belum ada di Kota Paris.

“Yang ada saat ini baru dalam bentuk katering yang dikelola oleh Uni Deni dan suaminya dengan mensuplai makanan Padang ke klien-kliennya dari tour and travel dan beberapa keluarga Indonesia yang menetap di Paris,” sebut Burmalis via ponselnya.

Menurut Burmalis, dari diskusi tersebut diharapkan suatu saat akan ada resto Minang hadir di Paris, dan para diaspora Minang yang ada di Paris siap berkolaborasi dgn perantau Minang lainnya yang berniat membuka Resto dan usaha lainnya di Paris, seperti penginapan, mini market dan lain-lain.

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa tidak mudah untuk investasi dan berusaha di Paris, karena banyak regulasi dan aturan-aturan pajak yang sangat ketat yang harus dipenuhi. “Aspek higienis dan standar-standar restoran Eropa lainnya yang sangat tinggi seperti tenaga kerja dan ainnya,” jelasnya.

Walau tidak mudah, namun harapan itu tetap ada. Potensi Rendang sebagai makanan terlezat di dunia harus dijadikan modal dasar orang Minang untuk berani go internasional. “Saat ini resto Padang atau Minang sudah bisa dikatakan menjadi ikon masakan nasional Indonesia dan ASEAN, namun belum untuk kawasan/benua lainnya seperti Eropa, Australia, Amerika dan lain-lain,” ujarnya.

“Mudah-mudahan pertemuan dengan diaspora Minang Paris ini menggugah para perantau Minang lainnya, bahwa kehadiran resto Minang di Paris merupakan peluang, sekaligus tantangan bagi orang Minang di seantero dunia,” tegas Rang Pasisie itu.

Sehabis dijamu oleh diaspora Minang Paris di Resto Borneo A Paris, Burmalis Ilyas kemudian dijamu khusus oleh Deni Endriani, pengusaha catering Minang di Paris dengan menu khasnya yang sudah terkenal di kalangan masyarakat Indonesia di Eropa, yaitu Dendeng Lado Hijau, dan sempat pula mencicipi Ketan Durian di apartemennya di jantung kota Paris.

Menurutnya, peluang masakan Minang sangat besar, terutama untuk para turis yang berasal dari Indonesia yang ke Eropa setiap bulan sebagai turis maupun untuk keperluan dinas atau bisnis. “Sekali lagi, momentum rendang sebagai makasan nomor satu itu harus kita lanjutkan,” tegasnya. “Now or never,” tegas Burmalis Ilyas.

“Selain itu fardu kifayah bagi masyarakat Minang dan umat Islam yang mampu untuk menghadirkan halal food di seluruh penjuru dunia, dan selain profit yang didapat pahala juga akan didapat, Insya Allah,” tutup Tokoh Muda Minang yang rendah hati itu. Enye