Malin Kundang Zaman Now Itu Bukan Pendurhaka

Oleh: Agus Taher

612

Kalimat “Malin Kundang bukan anak durhaka” yang dilontarkan Ery Mefri ketika menjelaskan  tema tari kolosalnya, betul-betul mengganggu fikiran saya, sepertinya Ery Mefri begitu berani menantang arus, tidak sepakat dengan legenda yang telah lengket di memori orang Minang, bahkan kisah Malin Kundang ini  sudah mendunia, sudah menjadi ikon untuk sebuah kedurhakaan, bahkan untuk sebuah pengkhiatan terhadap seseorang yang pernah berjasa “mengibarkan” kehebatan kita.

Pikiran-pikiran liar pun makin berpacu datang.  Ujung-ujungnya, saya sepakat dengan Ery Mefri. Legenda Malin Kundang ini sangat tidak mencerminkan karakter dan budaya Minangkabau, bahkan amat naif, karena mencuatkan stigma buruk tentang seorang yang menyandang nama “Malin”, nama yang biasa dilengketkan kepada figur ulama___“Urang 4 Jinih” dalam tatanan kepemimpinan di Minangkabau.

Prediket Malin diposisikan sebagai si Pendurhaka oleh si empunya cerita Malin Kundang.   Bagi saya, si penulis kaba Malin Kundang ini lebih besar KEDURHAKAANNYA, karena telah menjungkir-balikkan nilai-nilai luhur dari kebudayaan Minangkabau, walaupun memang, apalah arti sebuah nama !

Namun, Pangulu, Manti, Malin, dan Dubalang adalah posisi-posisi terhormat dalam tatanan masyarakat Minangkabau. Malin adalah salah seorang pembantu penghulu dalam bidang agama. Yulizar Yunus mencatatkan tugas Malin, mulai dari pengajaran mengaji, tata cara pelaksanaan Rukun Islam, termasuk menunjuk-mengajari anak kemenakan, anak nagari, agar  berakhlak dan mengarahkan mereka ke jalan lurus dan diredhai oleh Allah. Tugas Malin ini dibantu “urang jinih nan ampek” yakni: (1) imam, (2) katik, (3) bila dan (4) qadhi.

Dengan demikian, seseorang yang menyandang nama Malin, meskipun tokoh dalam cerita anak durhaka ini, boleh jadi masih remaja atau walaupun Ia tidak menyandang posisi “Urang 4 Jinih”, akan tetapi anak Mandeh Rubayah dalam legenda terkenal itu, diyakini seseorang yang kuat agamanya, berakhlak mulia dan tauladan dalam masyarakat Air Manis tempo doeloe.

Di zaman “balun barabalun” tersebut, prediket Panghulu, Malin, Manti, dan Dubalang itu adalah simbol, tauladan dan panutan, sehingga sangat dihormati. Oleh karena itu, amat tidak mungkin simbol itu dijadikan objek gurauan atau canda.  Plesetan plesetan melecehkan itu hanya terjadi dalam era yang filosofi ABS-SBK-nya mulai tergerus, dan telah “lakang dek paneh“, sehingga kita biasa mendengar istilah Datuak Maringgih, Datuak Dalu-Datuak Cabiak, Malin Kacindin, Malindangan, atau plesetan Dubalang Gagok dan Mantiko Zirit.

Artinya, si KUNDANG yang berprediket “Malin” dalam legenda si Malin Kundang dalam settingan waktu cerita ini dibuat, adalah seorang anak baik, yang kuat agamanya, bukan Calon si Pendurhaka setelah sukses di perantauan.

Apa artinya KUNDANG?

Dalam kamus Bahasa Indonesia, “kundang” artinya disayang, dimanja, atau selalu dibawa kemana-mana.  Dalam pergaulan sehari-hari sering kita mendengar ungkapan: “itu se nan nyo kundang-kundang ee kama pai“.   Nah, ketika Kundang itu berarti “disayang-dimanja” dalam hubungan seorang anak dan sang ibu, maka implikasinya tentu ikatan batin antara ibu dan anak, antara si “Malin” Kundang dengan Mandeh Rubbayah, ibunya, pastilah luar biasa kuat dan ihklas, yang perwujudannya: “Tak mungkin pernah ada kedurhakaan seorang anak atau sumpah seorang ibu”. Legenda Malin Kundang ini melenceng dari falsafah hidup Minangkabau

Merantau adalah pilar kedua dari peri kehidupan orang Minang.  Pilar pertama, Matrilini, pilar ketiga ABS-SBK.  Matrinili menyebabkan laki-laki Minangkabau, selain mamak, sebagai pengatur dan penguasa kaum, tidak memiliki “sociologic capital”, tanah garapan. Tempo doeloe, profesi utama penduduk bertani, dimana “sawah atau ladang” merupakan modal satu-satunya dalam sistem produksi. Dampaknya apa ?
Laki-laki yang tak memiliki modal dasar tadi, sebagian besar akan berprofesi sebagai buruh tani, pengangguran, atau orang suruhan dalam nagari. Itulah yang disiasati oleh sebagian besar laki laki Minang tempo doeloe, boleh jadi bersama istrinya.  Ketika tak memiliki aset lahan untuk bergerak di hulu, maka mereka bergerak di sektor hilir, yaitu dalam Teknologi pangan !

Tidak memiliki modal dasar__sawah ladang, bukanlah kiamat, kata mereka membatin.  Kelompok yang tak berpunya ini, sebagai dampak positif dari Matrilini, pada gilirannya berkembang sebagai produsen aneka kuliner dan penganan terhebat di dunia. “Indak basawah, indaklah. Den bali padi jo sipuluik Ang tu. Den buek katan, singgang, batiah, karak kaliang, kue sangko, paniaram.  Indak bajawi, indaklah. Den bali dagiang Ang, den buek kalio, dendeang, jo randang lamak”.

Fenomena “kok indak-indaklah” inilah yang menyebabkan Minangkabau tak susah melahirkan pencipta aneka kuliner terkenal dunia dan saudagar-saudagar hebat, yang mampu memposisikan si Miskin terzolimi “dulu” menjadi Orang Terpandang “baru” yang disegani.

Pilar kedua, Merantau.

Merantau selalu dipicu oleh dendam sosial, terutama dalam kasus “tempo doeloe”. Merantau merupakan skenario satu-satunya untuk merubah nasib, terutama karena tersakiti,  tak tega melihat orang tua “mangakeh” di sawah-di ladang orang.  Kadang-kadang terhina dan terzalimi, akibat bernasib sebagai orang tak berpunya. Adakalanya pacar pun disunting oleh anak orang kaya.  Semuanya menyakitkan yang memunculkan sikap “indak den ka baputiah mato”, bialah “Rantau Den Pajauah”.  Dan sebuah tekad pun hadir, aku akan pulang sebagai seseorang yang lebih hebat !!!
Jadi merantau adalah sebuah keterpaksaan kondisional,____mereka harus pergi, meskipun “di rumah paguno balun”.  Boleh jadi, perpisahan meninggalkan kampung halaman itu diiringi oleh isak tangis, karena entah kapan bisa bertemu kembali, entah larek di rantau urang, yang penting ingin merubah nasib.    Itu pun, tekad si Malin Kundang, ketika meninggalkan ibunya, karena begitu alam Minang mengajari.

Di setiap langkah perantauannya, yang selalu “di-kundang-kundangnya” siang malam adalah tekad kuat “Mambangkik Batang Tarandam”, untuk mengangkat status sosial orang tuanya di kampung.  Yang selalu dikundang-kundangnya itu adalah pilar ketiga, ABS-SBK, pilar yang dipegang erat oleh seorang “Malin” bahwa sukses yang mapan itu selalu terkait dengan kejujuran (amin, amanah) dan keuletan, serta doa-doa orang tua. Itulah yang terlihat dan  dipertontonkan oleh orang Piaman, sampai sekitar tahun1970-an. Pertanda sukses seorang anak Piaman di rantau, diketahui dari berangsur-angsur tampaknya pondasi batu air tegak di kampung, berikutnya sekamar-dua kamar berdiri, selanjutnya bangunan tanpa dapur muncul, meskipun bertahun tidak ditempati.

Tanda sukses memang muncul di kampung, meskipun di rantau, si bujang anak Mandeh ini pontang panting mencari makan, berpakaian lusuh setiap hari, sambil mengamalkan “sanak cari, dusanak cari, induak samang cari dahulu”, dima bumi dipijak, sinan langik dijunjuang”. Jadi, fokusnya ekonomi, relasi, dan adaptasi.Dalam kontek legenda Malin Kundang ini, juga ada satu hal penting yang dilupakan oleh si empunya Kaba ini.

Sukses anak dirantau hampir tak pernah luput dari doa ihklas seorang ibu, yang setiap selesai shalat mendoakan anaknya, agar selalu dalam lindungan Allah.  Dan, banyak kasus membuktikan kepada kita bahwa tokoh-tokoh sukses itu selalu dekat, santun, hormat dan menyayang ibunya melebihi kasihnya kepada siapapun, kecuali Allah. Dan, yang perlu kita catatkan, bahwa budaya Minangkabau tidak pernah melahirkan “IBU PENYUMPAH”.  Filosofi Minangkabau mengajarkan setiap orang tua Minangkabau untuk terbiasa berhati ihklas dan siap untuk tidak atau kurang terperhatikan secara penuh oleh anak dan minantunya.  Itulah rahasianya, kenapa anak laki-laki Minang kalau sudah berumah-tangga, tidak tinggal di rumah orang tuanya.  Berbeda dengan budaya Batak dan sebagian besar masyarakat Hindu di India, anak laki-laki membawa istrinya ke rumah orang tuanya.

Konklusi dari bedah kaba Malin Kundang yang sudah terkenal itu apa?

Pertama, kisah Malin Kundang ini tidak berlatar dari peri kehidupan etnik Minang, yang paling tidak dilandasi oleh 3 pilar, yakni Matrilini, Merantau, dan ABS-SBK. Boleh jadi, diangkat dari kisah sebuah keluarga etnik non Minang yang tinggal di sekitar Air Manis atau Muaro Padang.

Kedua, hadirnya stigma buruk, bahwa Minangkabau, ternyata bukan hanya hebat sebagai negeri produsen ulama dan cendikiawan, akan tetapi juga negeri Malin Kundang.  Itu pikiran orang ! Celakanya, stigma buruk ini diperkuat pula secara berjamaah oleh orang orang Minang.  Kaba Malin Kundang ini sudah diviralkan oleh berbagai media, ditulis dalam buku-buku sekolah, difilmkan, diciptakan lagunya dan direkam, serta dipentaskan beberapa kali oleh budayawan terkenal, bahkan makin diperkuat keberadaannya oleh pematung hebat, untuk meyakinkan bahwa batu Malin Kundang itu betul betul kisah nyata.   Batu-batu yang semula belum begitu jelas wujudnya di awal tahun 1980-an, kemudian dipermak makin mirip manusia, tali kapal, dan bangkai kapal.  Kok kapal dan tali kapal kena kutuk juga ? Ada ada saja kerjaan kawanku!

Ketiga, barangkali ini yang saya anggap terpenting !

Karena sudut pandang kita dalam melihat sebuah persoalan tak pernah sama, maka dipastikan akan hadir pendapat yang cukup vokal bahwa “menyoal legenda Malin Kundang versi legendaris” ini adalah kerja orang yang kurang kerjaan. Tak ada manfaatnya ! Legenda yang sudah mendunia kok digugat !

Untuk itu, mari kita sisihkan juga ruang, agar kita bisa memanfaatkan “soalan” ini untuk mencitrakan kembali bahwa budaya Minangkabau itu tidak melahirkan Ibu Penyumpah dan seorang yang menyandang prediket Malin sebagai sosok pendurhaka.  Orang Minang, terutama budayawannya mestinya juga menyandang amanah untuk memperbaiki stigma buruk bahwa Ranah Minang itu, bukan hanya gudangnya ulama, cendekiawan, dan tokoh bangsa, akan tetapi negeri Malin Kundang.   Samahal, kita mesti berbuat menghilangkan plesetan jelek: “Padang Bengkok”.  Berbuat sesuatu, lebih baik dari pada membisu ! ***

** Penulis adalah Pakar Pertanian yang lebih dikenal sebagai pencipta Lagu Minang dan pengamat budaya.