Selentingan IP dan Framing yang Galau

Oleh A.R. Rizal

354
A.R Rizal

BEBERAPA hari belakangan beredar cuplikan video yang berisi testimoni Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Testimoni itu berisi dukungan terhadap Emzalmi. Sebagai orang sekampung, IP dan Emzalmi sama-sama orang Padang. Berkampung Kuranji, sebelum ke sana singgah dulu di Balai Baru. Bia capuak asal lai guru, satiok bulan tarimo gaji. Itu pantun yang sangat terkenal di Kuranji, kampung saya juga.

Testimoni IP dijadikan alat kampanye. Seolah-olah merupakan bentuk dukungan sang gubernur terhadap Emzalmi yang maju sebagai calon walikota Padang di Pilkada 2018. Framing seperti ini tentu saja membingungkan sekaligus menyesatkan. Bukan hanya memberi stigma kepada IP sendiri, tapi kesan yang diciptakan adalah menohok PKS, partainya IP. Apakah PKS sudah keluar dari ciri khasnya? PKS itu terkenal solid dan kadernya militan. Di Pilkada 2018, PKS sudah menetapkan Mahyeldi sebagai calonnya. Lalu, IP yang merupakan kader utama PKS sudah berkhianat? Atau, apakah PKS membiarkan perbedaan pandang pada hal-hal yang sangat fundamental terkait dukungan politik? Apakah PKS sudah menghalalkan kadernya bersikap pragmatis dan memikirkan hasratnya sendiri?

Tidak! PKS tetap saja seperti dahulu. IP tetap saja kader utama PKS. Ia adalah pendukung sepenuhnya Mahyeldi. Soal video testimoninya tentang sosok Emzalmi, itu adalah video yang dibuat beberapa tahun lalu. Video itu merupakan bentuk dukungan terhadap calon walikota yang diusung PKS yang menyandingkan Mahyeldi dan Emzalmi sebagai calon walikota dan wakil walikota Padang.

Mengapa video itu kembali diputar dan dijadikan alat propaganda seolah-olah IP mendukung Emzalmi? Tentu saja ada kepentingan terselubung di baliknya. Kepentingan itu bisa saja sebagai upaya memberikan kesan positif terhadap sosok Emzalmi, atau framing diciptakan untuk menjatuhkan Mahyeldi dan PKS. Terlepas dari kepentingan itu, cara-cara penyebaran video testimoni IP ini sendiri menjadi sebuah propaganda yang buruk, bahkan terkesan sebagai hoax.

Dari lini massa, tempat beredar luasnya video testimoni IP, tidak dijelaskan waktu, tempat dan latar belakang munculnya video itu. Dalam teori jurnalistik, cacat 5W +1H. Yang muncul dari beredarnya video itu adalah informasi yang digoreng seolah-olah IP mendukung Emzalmi di Pilkada 2018. Informasi yang tak lengkap bisa dikategorikan hoax.

Bukan video testimoni saja yang sengaja digoreng untuk menghantam IP. Tulisannya berjudul ‘Blusukan Presiden Jokowi’ juga digoreng di lini massa. Seolah-olah, IP mendukung Jokowi untuk Pilpres 2019. IP juga distigmakan menjilat dan mengambil muka dengan tulisannya.

Sebagai gubernur, tentu saja IP mesti mendukung Jokowi sebagai presiden. Sebagai gubernur, tentu saja IP mesti menjilat dan mengambil muka kepada Presiden Jokowi. Menurut Anda, kue pembangunan yang besar dari pemerintah pusat itu bisa didapatkan hanya bermodal air liur saja? Menjilat dan mengambil mukanya IP bukan berarti sikap politik untuk mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

Framing seolah-olah IP mendukung Jokowi di Pilpres 2019 adalah sesuatu yang menyesatkan. Kenapa? Karena itu memberikan stigma atas kekaderan IP dan soliditas PKS sebagai partai kader. Tak ada dalam sejarahnya, kader PKS itu membuat sikap politik sendiri, apalagi yang bertentangan dengan sikap partai. Kalau ada kader yang seperti itu, pastilah ia bukan lagi menjadi bagian dari PKS.

Sikap PKS dalam Pilpres 2019 sebenarnya sudah jelas. Mejelis Syuro sebagai institusi tertinggi di partai ini sudah menetapkan sembilan nama kadernya sebagai bakal calon presiden. Salah satunya, Irwan Prayitno.

Informasi tentang Irwan Prayitno dan PKS memang sering digoreng. Hal itu membuktikan jika IP dan PKS adalah entitas politik yang seksi. Daripada menjadi seteru, lebih baik menjadi benalu bagi IP dan PKS. Selama bisa dimanfaatkan bagi keuntungan sendiri, maka tak masalah menjilat lawan sendiri. Kan lucu, menjadikan seteru politik sebagai alat untuk melecut popularitas sendiri. Itu framing yang galau.

IP itu adalah PKS. PKS itu tetaplah PKS yang dahulu dengan soliditas dan militansinya.

(Penulis adalah Wartawan Utama di Padang, Sumatera Barat)