Setelah Belanda, Burmalis Ilyas Lanjutkan Diplomasi Kuliner Minang ke Belgia dan Jerman

460
Burmalis Ilyas bertemu dengan Uni Eni Yusnaini yang datang dari kota Gent dan Uda Rully, dan Fadil yang tinggal di kota Antwerpen Belgia. Ist.

JURNAL SUMBAR | Belgia – Burma Ilyas betul betul serius urus percepatan kuliner Minang go internasional. Direktur Eksekutif Jaringan Perantau Minang Dunia (Jaringan Minang Diaspora Global) itu keliling Eropa temui perantau Minang. Liburan kali ini sebagian besar dimantmfaatkannya untuk diplomasi kuliner Minang.

Sehabis dari Den Haag Belanda, Burmalis Ilyas maju silaturrahminya dengan Diaspora Minang yang ada di Belgia. Di sana Burmalis bertemu dengan Uni Eni Yusnaini yang hadir dari kota Gent dan Uda Rully, dan Fadil yang tinggal di kota Antwerpen Belgia.

Dalam Pertemuan ini membahas mengenai potensi resto Minang di Belgia. Ternyata Uda Rully pernah membuka resto di Antwerpen, namun kemudian tidak dilanjutkan karena berbagai hal.

Burma Ilyas bertemu dengah Uda Fauzi dan Istrinya Uni Yuli yang punya usaha Katering masakan Padang, dan Uni Aline Joy yang punya usaha cafe di kota Cologne, Jerman. Ist.

Uni Eni Yusnaini saat ini sudah mulai membuka usaha katering di Gent Belgia, dan siap bekerjasam dengan tur travel yg membawa wisatawan ke Belgia.

Belgia termasuk salah satu kota tujuan wisata alternatif bagi masyarakat Indonesia sebagai pusat “Kota Berlian”.

Setelah silaturrahmi di Belgia, Burmalis kemudian turun liburannya ke kota Koln (Cologne), Jerman. Disana Burmalis bertemu dengah Uda Fauzi dan Istrinya Uni Yuli yang punya usaha Katering masakan Padang, dan Uni Aline Joy yang punya usaha cafe di kota Cologne.

Dalam pertemuan ini diharapkan agar perantau Minang yang ada di Eropa mau mencoba usaha di bidang kuliner dan lain-lain. Di Koln ada juga urang terbangun yang buka resto namun juga ditutup dan dijual ke orang lain cerita Uda Fauzi, dan ini menjadi PR besar semua urang Minang.

Setelah kurang lebih 6 negara di Eropa, Burma melihat ada peluang dan optimisme Resto Minang bisa hadir dan eksis di kota-kota besar Eropa.

Menurut Burmalis Ilyas, harus ada Politik Kuliner dari perantau Minang yang ada di seluruh jagad raya ini. “Artinya harus ada gerakan internasional semua jaringan perantau / diaspora Minang dunia untuk membuat masakan Minang sebagai masakan internasional yang diukur dari banyaknya restoran Minang hadir di setiap kota besar dunia,” kata Burma.

Politik Kuliner ini, lanjut Burma, diharapkan didukung oleh semua politisi, pengusaha, birokrasi dan semua perantau yang ada di dalam dan luar negeri. “Mimpi dan cita-cita itu harus dimulai dari sekarang,” tegasnya.

“Terbukti, dengan adanya Restoran Salero Minang di Den Haag Belanda dan beberapa usaha kuliner dan penginapan yang dimiliki oleh perantau Minang, menunjukkan hal ini bukan ini yang tidak sesuai dengan ini memang tidak mudah,” tegas Burmalis lagi.

Burmalis Ilyas berharap jaringan Minang internasional yang dirintisnya dengan Prof. Emil Salim, Prof. DR. Jurnalis Uddin, DR. Rizal Ramli, DR. Dino Patti Djalal, DR. Archandra Tahar, Betha A Djardjis, Maskur Chaniago Datuk Perpatih Nan Sabatang, Prof. Irawadi Jamaran, Prof. Armai Arif, Prof Fashbir, Agustanzil Sjahroezah, Sukri Bey, Sylvy Djardjis, Herman Kamra, Hendri Yusuf, DR. Yuliandre Darwis, DR Ivan Sini dan tokoh-tokoh Minang Indonesia.

Serta didukung penuh oleh tokoh-tokoh diaspora / perantau Minang dunia yang ada di luar negeri lainnya, seperti Dutamardin dan Benyamin Rasyad dari Amerika Serikat, DR. Tan Sri Rais Yatim, Prof. DR. Firdaus Abdullah, Dirwan Ahmad Darwis dari Malaysia, Dr. Marah Hoessein Salim dan Uni Salviena Makarim dari Singapura, DR. Yurdi Yasmi dari Thailand, Marlies Bustami, Prof Ismet Fanani, Iskandar, Muhammad Abduh, Yusuf Rizal dan lainnya dari Australia, Muhammad Sirin dari Arab Saudi, dan Syahrian Tampo dari Qatar, DR. Suryadi Sunuri, Erita, Wiwiek dan Efi Carelse dari Belanda, Mimi dan Fauzi Jerman, Deni, Yet dan Isna di Paris, Adriano di Swiss, Sna, Taty Thalib di Italia, dan tokoh-tokoh perantau dunia yang tidak bisa disebutkan satu persatu, bisa mendorong kuliner minang bisa go internasional. Enye