Setelah Perancis, Burmalis Ilyas Lanjutkan Diplomasi Kuliner Minang ke Belanda

504
Burmalis Ilyas poto bersama Uni Erita di Restoran Salero Minang di Den Haag Belanda. Ist.

JURNAL SUMBAR | Belanda – Burma Ilyas benar-benar cinta dengan kampung halamannya. Direktur Eksekutif Minang Diaspora Network Global itu terus mendorong kiluner Minang go internasional.

Sehabis pertemuan dengan masyarakat Minang Paris Perancis, Burma Ilyas juga restoran Salero Minang di Den Haag Belanda. Resto ini dimiliki Urang Awak disebut Uni Erita dan suami, Marco Lubek.

Dalam pertemuan tersebut hadir pula Uni Wiwiek, Diaspora Minang Den Haag yang juga bergelut di dunia pariwisata, dan banyak mendatangkan turis-turis ke indonesia dengan agen tour travelnya. Kemudian ada Uda Zukri Zulkifli dan Istrinya Elli Ratna Chania yang lagi mengambil studi S3 di Wagening Belanda dan juga punya agen Tour and Travel dengan Bendera Zura Tour Travel.

Dalam pertemuan dengan sajian menu Sate Padang, Bubur Kampiun, Itik Lado Hijau, Rendang dan sebagainya, terasa sangat nikmat di tengah-tengah langkanya masakan Minang di Eropa, dan karena memang masakannya juga sangat enak.

Dalam pertemuan itu muncul diskusi dan harapan-harapan agar resto Minang bisa menjamur pula di Eropa. “Uni Erita berharap Agar Salero Minang bisa buka resto baru di Amsterdam sebagai pusat wisata Belanda,” sebut Burmalis Ilyas kepada Jurnal Sumbar via ponselnya, Kamis (8/2-2018).

Dijelaskannya, saat ini Uni Erita juga mensuplai katering untuk turis-turia indonesia yang berlibur ke Eropa dengan tur dan perjalanan, diacu kerjasama dengan Tour Travel Uda Zukri Zulkifli.

“Alhamdulillah sesama perantau Minang bisa saling tanding dan suport satu satu sama lain. Uni Erita juga punya harapan agar orang Minang bisa memiliki hotel atau B & B di Eropa, karena sangat pasti sangat menguntungkan,” kata Burma.

Resto Cina dan India, lanjut Burmalis, bisa maju pesat di Eropa karena rata-rata turis Cina dan India makan dan konsumsi masakan Cina dan India yang ada di Eropa. “Begitu juga hotel-hotel yang dimiliki oleh jaringan Cina / India internasional,” jelasnya.

Sementara jutaan orang indonesia yang tur keliling Eropa dan Amerika dipastikan belanja dan konsumsi masakan di luar masakan indonesia, karena memang suply dari restoran dan katering indonesia masih terbatas. “Mudah-mudahan dengan adanya jaringan Minang internasional ini bisa membuka cakrawala baru bisnis internasional Urang Awak di bidang kuliner dan hotel,” harapnya.

Dengan adanya kuliner Minang yang go internasional, apalagi dengan Rendangnya sebagai masakan terlezat nomor 1 di dunia, maka dengan sendirinya secara langsung akan menjadi promosi gratis pariwisata Sumbar. “Karena orang pasti bertanya, dimana itu Sumbar dengan Rendangnya,” tegasnya.

Menurut Burma Ilyas, ini yang dinamakan Diplomasi Ekonomi dalam bentuk Diplomasi Kuliner dan juga sekaligus Promosi Pariwisata dan Ekonomi Sumbar. “Jadi insya Allah ada efek domino dari kuliner Minang yang go internasional terhadap promosi pariwisata Sumbar,” tegasnya lagi.

Ditambahkannya, saat ini diaspora Minang sudah merintis beberapa usaha kuliner dan hotel, seperti pak Harmein Ferdinal D
di Inggris dengan Brand Eagle Tavern. “Diharapkan akan muncul pula Erita Erita baru di bidang Kuliner dan Harmein Ferdinal baru dibidang hotel / penginapan,” semoga ada Uda Sumbar itu.

Menurut Burma Ilyas, tugasnya ini adalah arahan dari Dino Patti Djalal selaku Presiden Minang Diaspora Jaringan Global yang juga Presiden Diaspora Indonesia Network Global, dan Prof. DR. Emil Salim selaku Ketua Jaringan Minang Diaspora Global.

“Selain itu perjalanan ini juga mendapat arahan dari Muhammad Lutfi sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Bidang UMKM dan Koperasi, saya sebagai anggota dan  wakil komite tetap UMKM KADIN Pusat,” jelasnya.

“Harapan pak Lutfi yang juga Urang Awak dan pernah menjadi Menteri Perdagangan di era SBY, agar usahak UMKM Minang yang ada di luar negeri semakin maju dan siap dengan kompetisi global saat ini,” tutup Rang Salido Pesisir Selatan itu. Enye