Pertemuan Kim Jong Un dan Moon Jae-in Harapan Baru Perdamaian Semenanjung Korea

117

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Tanda-tanda ke arah perdamaian di Semenanjung Korea semakin dekat. Pertemuan pemimpin tertinggi Republik Rakyat Demokratik Korea Kim Jong Un dengan utusan khusus Presiden Republik Korea Moon Jae-in bagai hujan turun di musim panas yang panjang.

Begitu disampaikan Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara, Teguh Santosa, menyikapi pembicaraan damai di ibukota Korea Utara, Pyongyang. Dalam pembicaraan itu, utusan khusus Presiden Korsel Moon Jaein yang dipimpin Kepala Keamanan Nasional Chung Eui-yong.

“Sudah beberapa bulan terakhir ini dunia mengkhawatirkan situasi di Semenanjung Korea akan memburuk. Pertemuan antara Kim Jong Un dan utusan khusus Presiden Moon Jae-in memperbesar harapan semoga perdamaian bisa segera terwujud di Semenanjung Korea,” ujar Teguh Santosa dalam keterangan yang diterima redaksi.

Teguh mengatakan, sejak awal dirinya sudah memperkirakan bahwa ketegangan di Semenanjung Korea akan mereda di era pemerintahan Moon Jae-in. Namun, situasi di Semenanjung Korea sempat terganggu oleh provokasi pihak lain, dalam hal ini Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dan beberapa anasir eksternal yang kelihatannya ingin mempertahankan ketegangan bertahan di Semenanjung Korea.

Merujuk catatan sejarah pembicaraan damai kedua Korea pasca Perang Korea 1950-1953, Teguh mengatakan, ini bukan kali pertama pemimpin Korea Utara menerima pejabat tinggi Korea Selatan.

Di tahun 2000 pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Il bertemu Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung di Pyongyang. Begitu juga di tahun 2007 giliran pengganti Kim Dae-jung, Presiden Roh Moo-hyun yang bertemu dengan Kim Jong Il, juga di Pyongyang.

“Semoga pertemuan yang terjadi sejak kemarin dan hari ini akan segera disusul dengan pertemuan antara Kim Jong Un dan Moon Jae-in,” sambung Teguh yang juga dosen Asia Timur di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Teguh juga berharap pembicaraan damai yang sedang terjadi di Pyongyang bisa membuka mata dunia dan mengubah persepsi banyak pihak yang sudah kadung dibentuk oleh kabar-kabar bohong dan cerita fantasi tentang Korea Utara. rilis