Aroma Dapur Emak

Cerpen: Firdaus Abie

119

Entah kenapa, da Boy belum juga kembali. Ia belum mau balik ke Jakarta, padahal puasa sudah jalan sepekan. Biasanya da Boy pulang dua atau tiga hari menjelang lebaran, tak sampai seminggu setelah lebaran ia kembali ke Jakarta.

Puasa kali ini, berbeda. Da Boy sudah di kampung sebelum balimau. Katanya ia ingin balimau ke Lubuk Tempurung. Sudah dua puluh lima tahun ia tak ke sana. Lubuk Tempurung merupakan tempat pertama dan terakhir ia balimau. Ketika itu ia masih duduk di bangku kelas dua SMP. Emak membawanya bersamaku.

Ketika itu, kami pergi bertiga secara sembunyi-sembunyi. Takut ketahuan. Ayah melarang kami ke tempat balimau. Kata ayah, dari tahun ke tahun, suasana balimau sudah mulai menyimpang. Tidak lagi membersihkan diri, tetapi justru menambah dosa. Lelaki dan perempuan mandi bercampur di sepanjang aliran sungai.

Dulu, kata ayah, disaat beliau muda, mandi balimau sangat dinantikan. Tradisi mandi bersama, membersihkan diri bersama, diatur sedemikian rupa. Ada lubuk pemandian tersendiri. Tak bercampur pemandian laki-laki dan perempuan. Anak perempuan mandi di baruah saja. Jika ada yang melanggar, akan dikenakan sanksi adat.

Kini kondisinya sudah berubah. Semua sudah bercampur baur. Tak ada lagi yang mengawasi. Tak ada lagi yang mengeluarkan pantangan-pantangan. Lelaki dan perempuan mandi ditempat yang sama. Semenda, mamak rumah, ipar, besan, anak, keponakan, mamak, tumpah ruah bergembira. Mandi-mandi bersama.

Ketika kami pulang, ayah sudah menunggu di serambi. Ada seulas senyum yang dipaksakan, tapi aku sudah menangkap tanda-tanda tak baik. Ayah sedang marah. Ayah memarahi kami. Beliau tahu benar, pasti kami yang memaksa emak balimau ke Lubuk Tempurung. Emak menghadapi kemarahan ayah. Ia pasang badan. Kata emak, sesungguhnya beliaulah yang punya ide mengajak anak-anak ke sana.

Belum pernah aku melihat ayah semarah itu. Aku ketakutan. Da Boy juga. Emak tampak tenang setelah beliau pasang badan mengatakan, dirinya yang membawa aku dan da Boy ke Lubuk Tempurung. Kemarahan ayah tak sekali pun dijawab emak. Beliau tampak sabar.

Ketika azan berkumandang, emak mengingatkan kepada ayah, sudah magrib. Lalu beliau menyerahkan air minum di mug besar yang biasa digunakan ayah bersama kain sarung. Sejak kejadian itu, tak seorang pun yang berani lagi melanggar larangan ayah, termasuk emak.

Ketika aku dan da Boy beranjak remaja hingga menikah dan memiliki anak, kami tak pernah lagi balimau. Aku dan suami juga sepakat untuk tidak membawa anak-anak ke sana, sekali pun kegiatan tersebut tradisi sejak masa lalu.

Aku juga heran saat da Boy pulang sehari sebelum balimau. Da Boy mengatakan, akan ke Lubuk Tempurung. Ia akan balimau. Aku mengingatkan larangan ayah padanya, namun da Boy tetap bersikukuh untuk ke sana.

“Sekali ini saja,” katanya.
Sejak pulang balimau, da Boy tak seceria sebelumnya. Ia sering terlihat gelisah. Sekali-sekali tertangkap basah merenung sendiri. Aku pernah bertanya, namun ia tak memberikan jawaban. Pernah pula aku minta kepada suamiku, Malin Kayo, menanyakan perihal mamak rumahnya tersebut, namun tak ada jawaban.

Aku semakin heran, da Boy membatalkan rencana kembali ke Jakarta. Tiket pesawat untuknya balik, hangus. Tak bisa diganti dengan apa pun. Aku tak berani menanyakan kapan ia balik ke Jakarta. Aku takut ia tersinggung.

Kami anak Minang, selalu diingatkan untuk menjaga hal-hal kecil agar lawan bicara jangan tersinggung. Menanyakan kapan kembali ke Jakarta, walau kepada uda sendiri, adalah sebuah pantangan. Telinga kami sangat tipis. Jika itu ditanyakan, sama saja artinya orang yang bertanya mengusir orang yang ditanyai secara halus.

Aku tak ingin uda tersinggung. Ia satu-satunya saudaraku. Ia juga tak setiap hari di rumah, bersamaku. Hidupnya sejak muda di perantau. Ia merantau ke Jakarta setamat SMA di Padang. Selama di perantauan, ia selalu mengirimkan kabar-kabar bagus kepada kami di kampung, terutama ketika ayah dan emak masih hidup.

Sebulan setelah ia meninggalkan kampung halaman, ia berkirim kabar. Katanya, ia diterima bekerja di pabrik roti rumahan. Pabriknya tidak besar, ia karyawan tetap ketiga di luar pemilik, isterinya dan dua orang anak mereka. Kalau pun ada enam sampai sepuluh orang lainnya, mereka semua karyawan tidak tetap. Tergantung situasi saja.

Biasanya karyawan tidak tetap tersebut dipanggil saat produksi saja. Setelah mengolah adonan dan memanggang roti-roti yang akan dijual, tenaga tidak tetap dibutuhkan untuk memasukkan roti-roti tersebut ke bungkusnya. Pendapatan mereka berdasarkan hitungan, seberapa banyak mereka bisa membungkus roti-roti tersebut.
Da Boy bekerja di sana secara tidak sengaja.

Ketika ia terlunta-lunta sesampai di Jakarta, ia berkenalan dengan seorang tukang parkir. Merasa kasihan pada kondisi da Boy, tukang parkir tersebut memberikan ruang satu atau dua jam kepada da Boy menggantikannya. Pendapatan selama itu pula diberikan sepenuhnya kepada da Boy untuk kebutuhan sehari-hari.

Selama mendapat kesempatan itu pula, pengakuannya, da Boy tak pernah berhitung tenaga. Ia tak hanya sekadar mengatur kendaraan, tetapi juga membantu mengangkatkan barang pemilik kendaraan tanpa meminta uang lebih.

Sikap da Boy ternyata diperhatikan pak Dadang dan isteri, setiap mereka belanja kebutuhan usahanya. Mereka kemudian menawarkan agar da Boy mau bekerja bersamanya. Da Boy juga diizinkan tinggal di salah satu bagian di pabrik roti tersebut. Kebutuhan makan sehari-hari tinggal ambil di rumah pak Dadang.

Belasan tahun da Boy bekerja di usaha roti pak Dadang. Ketika usia pak Dadang semakin Ianjut, ia mempercayai da Boy mengelola usaha tersebut. Kepercayaan pak Dadang dan isterinya menghadirkan rasa iri bagi dua orang anak lelakinya. Keduanya menyusun skenario memfitnah da Boy. Skenario itu berhasil. Pak Dadang dan isterinya kecewa, lalu mengusir da Boy.

Mulanya da Boy ingin menyimpan rapat-rapat kejadian itu. Ia ingin melupakan, namun kabar versi kedua anak pak Dadang sampai juga kepada emak. Emak marah, namun beliau menyembunyikan, lalu emak jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia.

Setelah emak meninggal, aku menyampaikan apa adanya kondisi emak, sejak beliau mendapat kabar dari anak pak Dadang. Emak kecewa. Beliau tak menduga anaknya berbuat seburuk kabar yang diperolehnya. Beliau merasa gagal mendidik da Boy. Sejak itu, kondisi emak memburuk. Beliau sering merenung.

Mulanya aku bermaksud hendak mengabarkan kepada da Boy, namun emak melarang. Kata emak, buat apa anak tak balas guna itu dikabari. Emak tak sudi. Aku takut melanggar larangan emak. Aku baru menyampaikan semua setelah emak meninggal. Aku merasa serba salah.

Kepergian emak meninggalkan dendam dalam diri da Boy kepada anak-anak pak Dadang. Ia kemudian mendirikan usaha roti juga, tak jauh dari kediaman pak Dadang. Ketekunannya berbuah hasil. Usaha da Boy berkembang pesat, pabrik roti pak Dadang akhirnya tutup. Pak Dadang dan isterinya baru menyadari kesalahan, ketika kedua anaknya menceritakan kejadian sesungguhnya, setelah pabrik mereka tutup. Nasi sudah jadi bubur.

Sejak usaha mereka tutup, pak Dadang beserta isteri dan anak-anaknya datang minta maaf, da Boy memaafkan. Ia ingat, emak adalah orang paling pemaaf di dunia yang pernah dikenalnya. Ia berpegang teguh untuk mewarisi warisan emak tersebut.
Ia kemudian mengajak kedua anak bekas majikannya tersebut bekerja bersamanya, tapi keduanya menolak karena malu. Sejak itu pula, setiap pagi, da Boy selalu mengantarkan roti ke rumah pak Dadang. Jika ia berhalangan, minimal isteri atau anaknya yang mengantarkan. Ia tak pernah mau meminta karyawannya.

Kutemui da Boy, namun ia memintaku untuk tidak mendekatinya, “selesaikan dulu kerjaanmu, dik. Sebentar lagi asyar,” katanya mengingatkanku. “Semua sudah selesai, da. Tinggal menghidangkan di meja saja,” kataku, namun aku melihat gerakan tangan da Boy. Ia seakan mengusirku. Ia tak ingin aku mendekatinya. Ia sedang menghidupkan api di tungku.
“Uda pasti ingat emak?” tanyaku.
Ia menggeleng.
“Jangan dustai hatimu, da” desakku.
Tak ada jawaban. Da Boy terus menghidupkan api di tunggu. Tak ada yang dijarangkan di atasnya. Ia meniup api dengan saluang , lalu menambahkan kayu dan ranting-ranting yang aku kumpulkan sebelum uda pulang.

Aku tahu, da Boy pasti sedang rindu berat pada emak. Rindunya pada emak dilampiaskan dengan menghidupkan api di tungku. Sesungguhnya aku tak lagi memasak di tungku. Aku sudah lama memasak dengan listrik dan kompor gas. Ia pernah mengingatkanku, apa pun boleh diubah di rumah peninggalan ayah dan emak, tetapi jangan pernah ganggu dapur emak.
“Biarkan aku menikmati aroma dapur emak,” katanya, mengusirku. Air mataku berderai. ***

Padang – Lubuksikaping, 18518

(Cerpenis adalah penulis hebat dan kini menjabat Pemimpin Umum Surat Kabar Rakyat Sumbar di Padang, Sumatera Barat)