Jelajah Desa, BUMNag Pakandangan Emas Kelola Lahan Tidur Masyarakat

139

JURNAL SUMBAR | Padang Pariaman – Sedikitnya ada 150 hektar lahan tidur di Kanagarian Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. “Jika ini dibiarkan, betapa meruginya kita,” kata Syaiful Rahman, menjawab pertanyaan wartawan, ketika menerima kunjungan tim Jelajah Desa, Silaturahmi ke Nagari, Ramadan Berbagi, di Pakandangan, Sabtu (9/12).

Ia menyebutkan, terlantarnya lahan produktif tersebut karena selain sudah banyak yang merantau, masyarakat juga kuatir terjadi gagal panen. Akhirnya mereka memilih untuk beralih ke mata pencaharian lain.

Menyikapi kondisi itu, Syaiful Rahman mencari alternatif. “Kita sewa lahan tidur tersebut, lalu kita garap bersama mereka,” katanya.

Pengelolaan yang dilakukan, diwujudkan dalam bentuk komitmen bersama. Lahan disewa pertahun, lalu diolah melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag).

Tenaga yang dikerahkan untuk menggarap lahan tersebut ditawarkan terlebih dahulu kepada pemilik lahan. Pekerjaan untuk menggarap lahan dibayar berdasarkan kesepakatan. Nilainya bervariasi.
“Saat panen, mereka juga diberitakan bagi hasil,” kata Syaiful.

Kini, sudah delapan hektar lahan tidur masyarakat yang disewa Bumnag Pakandangan Emas, sebanyak 3,5 hektar sudah ditemani jagung. Panen perdana bulan depan.

“Sisanya belum bisa kami garap karena terbentur modal awal,” katanya sembari menyebutkan, setiap satu hektar dibutuhkan anggaran Rp 20 juta sejak persiapan lahan hingga panen.

Pengelolaan pertanian jagung tersebut merupakan salah satu dari tiga unit usaha yang dilakukan Bumnag Pakandangan Emas. Usaha lain, unit Simpan Pinjam Syariah dan unit Bank Sampah.

Di unit Simpan Pinjam Syariah, ada delapan produk yang ditawarkan kepada masyarakat. Tak satu pun dikenakan biaya pendaftaran atau administrasi. Berapa disimpan, tak akan berkurang. Selama empat bulan berjalan, sudah ada 240 orang yang menyimpan di Bumnag tersebut. Total tabungannya mencapai Rp 170 juta.

“Saat ini, karena terdesak kebutuhan menjelang lebaran, banyak yang menarik simpanannya,” kata anak muda ini sembari menyebutkan, sebesar Rp 140 juta sudah ditarik kembali.

“Ya, kita kembalikan sesuai permintaan mereka,” katanya.

Unit Bank Sampah juga sudah menghasilkan. Diakui Syaiful, nilainya masih kecil. Rata-rata Rp 2 juta perbulan. Pengelolaannya masih terbatas karena belum lengkapnya peralatan.
“Kami belum memiliki mesin pengolah plastik,” katanya sembari menyebutkan, jika mesin itu dimiliki maka sampah plastik yang akan bisa diolah menjadi minyak tanah dan fapping blok.

Langkah yang dilakukan tersebut, diapresiasi tim Jelajah Desa yang diketuai H Febby Datuk Bangso, didampingi Kasubdit Perdagangan Andre Hikwanul Lubis, Kasubdit Pusdatin Jasneti Umar, Kasubdit Pengembangan Bumdes Febrian Ali Yusmar.
Wujud nyata apresiasi tersebut, BNI bersedia memberikan bantuan mesin pengolah plastik, sebagai wujud kemitraan BNI dengan Kemendes PDTT. rls/raksum