Pantai Tan Sridano, Objek Wisata Nan Indah Warisan Kerajaan Banda Sapuluah

345
Pohon Pinus memperindah kawasan pantai Tan Sridano di Batang Kapas. Ist.

JURNALSUMBAR | Pesisir Selatan – Deretan pohon Pinus memperindah kawasan di sepanjang Pantai Tan Sridano. Itulah sebuah objek wisata yang terletak di Kenagarian Taluak, Kecamatan Batangkapas, Kabupaten Pesisir Selatan.

Popularitas objek wisata ini kian terkenal karena pengunjung disuguhkan keindahan jejeran pohon Pinus yang tertanam rapi, rimbun, serta hamparan pasir yang putih.

Bahkan, kawasan ini disebut-sebut mirip seperti tempat wisata di Korea Selatan. Ya, seperti di Pulau Nami, dimana lokasinya terkenal dengan jalur pohon yang berjejer indah.

Beda tempat, beda sensasi. Lain sensasi di Korea Selatan, lainpula sensasi yang ditawarkan oleh Pantai Tan Sridano.

Setiap akhir pekan destinasi wisata keluarga itu selalu ramai dikunjungi. Ada saja moment yang diabadikan wisatawan.

Tak bosan mata memandang. Bila sampai disana ingin rasanya berlama-lama. Tempatnya teduh dan rindang seolah pikiran tenang. Stres ringanpun bisa hilang dibuatnya.

Dinamai Pantai Tan Sridano karena ada sebuah kisah yang tersimpan. Tak banyak orang yang tahu dibalik namanya yang tengah naik daun sekarang.

Nama Pantai Tan Sridano sebagai salah satu objek wisata yang baru dikukuhkan oleh tokoh masyarakat bersama pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan pada Sabtu 23 Juli 2016 lalu.

Pelaksanaan kegiatan peresmian itu diprakarsai oleh mahasiswa KKN-PPM UNAND melalui kerjasama pemerintah nagari dan daerah.

Dari cerita masa lalu nama Pantai Tan Sridano bukan sembarang nama. Nama itu melainkan sosok tokoh pahlawan pada masa kerajaan Banda Sepuluah semasa zaman kolonial Belanda dulu kala.

Tokoh masyarakat setempat, Datuak Rajo Bagindo, Yusrizal Yunus menceritakan bahwa dahulu di Sumatera Barat terdapat 118 jumlah kerajaan.

Dari ratusan kerajaan itu, 18 kerajaan tersebar di Kabupaten Pesisir Selatan. Diantaranya, Kerajaan Banda Sapuluah, Lumbung Ameh, Sei Nyalo, Puluik-puluik, Painan, Kesultanan Inderapura, serta Lunang dan Silaut yang dipanggil dengan Rajo Alam.

Nah, pada Kerajaan Banda Sepuluh inilah lahir seorang tokoh bernama Tan Sridano. Tan Sridano bergelar Burhanudin. Dia bertugas sebagai Panglima Kerajaan Alam Surambi Sei Pagu yang tapak landainya Banda Sepuluh.

Oleh kekuatan dan kepiawaiannya, Tan Sridano sangat berjasa kepada daerah ini. Sebab ia telah berhasil mengusir para teror bajak laut di perairan Banda Sapuluah. Dia hadir sebagai pembela dan keamanan wilayah.

Jika ada bajak laut yang macam-macam, Tan Sridano tidak segan-segan mengusir dan menyerangnya dari Banda Sapuluah.

Masa itu, Banda artinya sebagai kota dagang yang sangat berkembang pesat melalui perairan laut. Jadi berdagang merupakan sumber ekonomi yang bagus sewaktu itu.

Kemudian, ada dua pelabuhan sebagai pusat transaksi atau jalur perdagangan, Pelabuhan Emas dan Inderapura.

Kini nama Tan Sridano tinggal cerita. Maka untuk mengingat kisah-kisah sejarah Pesisir Pantai dahulu kala, tokoh masyarakat Taluak, Kecamatan Batang Kapas bersepakat memberi nama objek wisata baru di Pantai Taluak itu dengan sebutan Pantai Tan Sridano.

Sebab masyarakat menilai ada ada unsur sejarah yang perlu diingat semasa dahulu kala.

Peresmian Pantai Tan Sridano pada 23 Juli 2016 tersebut langsung diresmikan oleh Bupati Hendrajoni bersama unsur pemerintah daerah.

Bupati Hendrajoni menyebutkan nama Pantai Tan Sridano hendaknya dibangunkan sebuah tugu dengan nama Tan Sridano, tujuannya agar pengunjung juga bisa mengetahui latar belakang sejarahnya pantai itu.

Selain itu, mantan perwira menengah ini mengatakan kemolekan pantai Tan Sridano sungguh dapat memberikan kesenangan tersendiri bagi para pengunjungnya.

Bahkan, dia sangat kaget dan kagum dengan pesona alam yang tersimpan di Kecamatan Batang Kapas.

“Ketika saya memasuki lokasi ini, saya kaget dan kagum sekali. Sungguh luar biasa indahnya. Ini adalah tempat pariwisata yang bagus. Dan bagi orang-orang yang stres dan banyak masalah mungkin bisa terobati dengan datang kepantai ini,” katanya.

Dengan diresmikan objek wisata baru tersebut, Bupati mengajak masyarakat untuk selalu bahu-membahu dan bekerjasama dalam membangun kampung halaman melalui bidang pariwisata. Sebab Pemerintah daerah tengah gencar untuk memprioritaskan pembangunan pariwisata sebagai sumber peningkatan ekonomi masyarakat dan pendapatan asli daerah.

“Saya akan respon ini.  Mudah-mudahan nanti jalannya diaspal. Apa-apa yang kurang tolong katakan. Dan jangan lupa kordinasi juga sama pak Kadis Pariwisata,” tutur Hendrajoni. (Rega Desfinal)