Pedagang Eks Pasar Atas Bukittinggi Keluhkan Kecilnya Kios Penampungan

192

JURNAL SIMBAR | Bukitinggi – Pedagang korban kebakaran Pasar Atas Bukittinggi mengeluhkan ukuran kios penampungan yang telah mereka tempati mulai seminggu menjelang masuknya bulan Ramadhan 1439 H.

Sejumlah pedagang korban kebakaran itu kepada media ini mengaku sudah jatuh ditimpa tangga pula, karena barang barang mereka rata rata tidak dapat diselamat saat kebakaran terjadi oktober 2017 lalu. “Sekarang kami disuruh berusaha di kios penampungan yang ukurannya sangat kecil, hanya 1,5 x 2 m, sehingga etelase tidak bisa dimasukkan, dan ada teman-teman yang meletakkan etelasenya di luar, akibatnya gang jadi sempit membuat pengunjung tidak nyaman,” ujar pedagang Upik dan Dewi kepada media ini.

Menurut sejumlah pedagamg korban kebakaran kepada media ini yang sengaja melihat dari dekat suasana di lokasi penampungan itu, Rabu (27/6), mengaku telah kehilangan pelanggan disebabkan lokasi penampungan dan penempatan pedagang yang diacak-acak, tidak perjenis seperti di Pasar Atas tempo hari. “Sarusnya pembagian kios penampungan ini disesuaikan juga dengan blok-blok yang ada di Pasar Atas dan jenis dagangannya,” sebut mereka.

Sekarang coba lihat di antara pedagang kain ada pedagang alat pertanian dan peralatan rumah tangga dan ada pedagang optik atau kacamata, tambahnya.

Biasanya seminggu menjelang lebaran sampai malam takbiran, kami bisa jual beli, tetapi setelah kami mulai berjualan di kios-kios penampungan ini, hanya dua kali pecah telur. Coba bayangkan sehari menjelang lebaran sampai malam takbiran jual beli hanya Rp800 ribu, ungkap mereka dengan mata berkaca-kaca.

“Tahun ini kami dan anak anak benar benar tidak berhari lebaran,” keluhnya.

Kami berharap pemko Bukittinggi bisa memperhatikan nasib kami dengan menyegerakan pembangunan kembali pasar atas yang telah dirobohkan puing-puing bekas kebakaran itu, dan kami juga bermohon selama proses pembangunan kembali Pasar Atas itu, diizin berjualan di jalan Minangkabau dan di jalan A Yani sampai di bawah jembatan Limpapeh, harap mereka.

“Kalau lama-lama kami di sini, bisa mati tidak makan kami dibuatnya,” tegas mereka.( yus)