Richo, Menggapai Mimpi dengan Keindahan Jam Gadang

240
Richo dengan contoh poto hasil jepretannya. Enye

JURNAL SUMBAR | Bukittinggi – Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Filosofis ini dipegang teguh oleh Richo, seorang potografer amatir di objek wisata Jam Gadang, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Lajang 24 tahun itu bisa hasilkan Rp100 ribu sehari dari menjual keindahan ikon kota wisata itu.

Mengatur gaya.

Minggu pagi, 10 Juni 2018, pukul 09.00 WIB, kawasan objek wisata Jam Gadang masih sepi pengunjung. Seorang potograger amatir terlihat santai menunggu pengunjung yang ingin mengabadikan keindahan bagunan peninggalan Belanda itu.

“Bapoto, ni…?. Murahnyo, ni… Hasilnyo rancak,” ucap seorang anak muda yang menenteng kamera digital dan papan contoh poto keindahan Jam Gadang kepada seorang pengunjung. Setelah menjelaskan proses pemotretan dan biayanya, pengunjung itu pun siap-siap bergaya di depan Jam Gadang untuk dipoto.

Memotret.

Setelah mengatur gayanya, anak muda bernama Richo itu mulai mengambil posisi untuk memotret pengunjung tersebut. Tak lama lampu klip kamera itu pun berkilat, dan selesailah pemotretannya. Setelah dilihatkan hasilnya, potretan itu langsung dicegak dengan mesin printer yang sudah disiapkan.

Sekitar lima menit berproses, poto pun jadi. Dibungkus dengan plastik, Richo menyerahkan poto tersebut kepada pengunjung, dan Richo pun menerima uang jasanya Rp30 ribu. “Rancak potonya,” ujar pengunjung tersebut memuji. “Mokasih yo,” tambahnya sembari berlalu.

Mencetak poto.

Richo yang asli Baso itu telah 3 tahun jadi potografer amatir di Jam Gadang. “Alhamdulillah bisa menghasilkan Rp50 sampai 100 ribu sehari,” sebutnya ketika dihampiri. “View pavorit dari arah Pasa Ateh,” jelasnya.

Richo yang tamatan SMP itu selalu mengedepankan pelayanan yang ramah, dan berusaha membidikan kamera dengan teliti untuk menghasilkan pemotretan yang sempurna. “Alhamdulillah pelanggan senang dengan hasil jepretan saya,” ujarnya.

“Yang terkesan adalah, hasil potretan saya diakui bagus oleh seorang potografer profesional ketika dia minta dipotokan,” kenangnya.

Hasil jepretan Richo.

Dikatakan Richo, para potografer amatir di Jam Gadang ada dua kelompok, yaitu kelompok Opeje 9 orang dan Marawa 18 orang. “Kami dapat pembinaan dari Dinas Pariwisata berupa pelatihan bagaimana melayani pengunjung dengan baik dan ramah, dan sekaligus jadi agen pariwisata Kota Bukittinggi,” jelasnya.

Richo yang bercita-cita jadi potògrafer profesional itu bersyukur bisa jadi “tukang poto amatir” di Jam Gadang. “Alhamdulillah bisa bantu orang tua,” ujarnya. “Dan, kami di sini kompak dan selalu menjaga kenyamanan pengunjung,” tambahnya.

“Kalau ada yang mau mengabadikan kunjungannya ke Jam Gadang, silahkan kontak saya di nomor 082386697586,” ujarnya berpromosi. “Insya Allah hasilnya tidak akan mengecewakan,” janjinya. “Ke Bukittinggi tìdak mengabadikan keindahan Jam Gadang, rugi,” tegasnya. “Karena Jam Gadang hanya ada satu di dunia,” alasnya.

“Kami selalu siap mengabadikan momen indah wisatawan yang berkunjung ke Jam Gadang,” pungkas Richo yang segera mempersunting dara Pesisir Selatan itu. enye