Super Macet, Pungli Marak di Jalur Payakumbuh-Bukittinggi-Padang

350

JURNAL SUMBAR | Payakumbuh – Memasuki hari ke-empat lebaran idul fitri (H + 4), kondisi arus lalulintas Payakumbuh – Bukittinggi, macetnya semakin parah, begitu juga Bukittinggi – Padang dan sebaliknya. Akibat macet tersebut pungutan liar (Pungli) pun merajalela.

Jarak tempuh yang biasa memakan waktu 45 menit Payakumbuh – Bukittinggi dan sebaliknya, sejak H+ 1 lebaran sampai hari ini memakan waktu tiga sampai lima jam, walaupun telah melalui jalur alternatif.

Kondisi paling parah macetnya sepanjang Senin kemaren mulai dari simpang Piladang, Baso dan simpang Padangluar. Demikian pantauan kontributor Jurnal Sumbar, Yusrizal dari Payakumbuh.

Untuk mengatasi itu petugas mencoba menerapkan jalur jalan lurus dan dilarang velik kanan di simpang Pildang menuju Batusangkar. Di simpang Baso menuju Batusangkar, di simpang Padang Luar menuju Ladang Laweh, termasuk di simpang Jambu Air dengan memberlakukan jalur jalan lurus itu sedikit mengurangi panjang antrian macet.

Hasil pantauan dan informasi yang dikumpulkan, titik macet dari Payakumbuh menuju Padang dan sebaliknya itu, mulai dari SPBU sesudah Ngalau Indah Payakumbuh, simpang Piladang, Simpang Batuhampar Kecamatan Akabiluru Kabupaten Limopuluah Kota, simpang Baso, simpang Canduang, SPBU sesudah Simpang Canduang, obyek wisata Taman Lazeta Kecamatan Baso Kab. Agam, simpang Biaro, simpang Tanjuang Alam kec. Ampek Angkek Kab. Agam, Simpang SPBU Garegeh kota Bukittinggi, simpang Jambu Air, simpang Pondok Pesantren Parabek (simpang bengkaweh), simpang Empat Padangluar, simpang Sungai Landir, simpang Sungai Buluah Kecamatan Banuampu Kab. Agam, Simpang Tiga Pasar Koto Baru, obyek Wisata Linduang Bulan Lembah Anai Kab. Tanah Datar dan setiap persimpangan menuju Padang dan sebaliknya, karena kendraan belok kiri atau kanan di setiap persimpangan dan SPBU untuk mengisi bahan bakar.

Jalan jalan alternatif tidak banyak lagi membantu kecepatan menuju tujuan pengguna jalan, karena volume kendaraan yang melalui jalur alternatif itu juga meningkat tajam, jalan kecil kendraan yang lewat padat, setiap berpapasan harus berhenti salah satu, bila tidak ada pengendara yang saling mengalah, maka terjadi kemacetan dan kles.

Selain itu yang membuat macet dan padat marayapnya kendaraan yang melintas di jalur alternatif itu adalah aktivitas pungli yang dilakukan sekelompok pemuda setempat.

Mereka mencoba mengatur di setiap tikungan atau tanjakan yang ada di sepanjang jalur alteratif itu, lalu meminta uang jasa kepada pengemudi mobil, bila tidak dikasih mereka akan mengeluarkan ungkapan kasar dan cenderung memperlihatkan sikap emosi.

Pungli itu tidak saja di jalur jalan alternatif, tetapi di simpang simpang masuk dan keluar jalan alternatif tersebut juga terjadi pungli, jumlahnya memang tidak terlalu besar, rata rata setiap kendaraan uang lewat memberi Rp2 ribu tetapi bila dikalikan dengan kendaraan yang lewat dalam 14 jam sehari dari pukul 9.00 WIB sampai 22.00 WIB malam, pasti yang berhasil dikumpulkannya cukup signifikan juga.

Dampak lain dari aktivitas pungli dengan mengatur sendiri arus lalulintas membuat kemacetan panjang. (Yusrizal)