BUMNag Pakandangan Emas Hadir Menekan Rentenir dan Kelola Lahan Tidur

110

JURNAL SUMBAR | Padang Pariaman – Ketika Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) di Sumatera Barat masih mencari-cari formulasi yang cocok untuk usahanya, terobosan jitu dilakukan BUMNag Pakandangan Emas. Badan usaha yang didirikan pada akhir 2017 tersebut, sudah mulai menapak dengan usaha yang dapat merebut hati masyarakatnya.

BUMNag Pakandangan Emas menjalani usaha dalam konsep syariah. Produknya, simpan pinjam syariah, bank sampah, pertanian, budidaya jagung dan home industri. Semua dilakukan secara matang. “Tahap awal, kita menjalankan simpan pinjam syariah. Simpan dulu, baru bisa minjam,” kata Syaiful, Direktur BUMNag Pakandangan Emas, yang beralamat di Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman.

Modal dasar BUMNag Pakandangan Emas senilai Rp 225 juta. Modal itu didapatkan dari Kemendes PDTT, lalu saham dari berbagai lapisan masyarakat di kabupaten tersebut. Banyak pemegang saham di Bumnas Pakandangan Emas. Tujuannya, agar banyak yang tahu dan memberikan perhatian.

Sang Direktur, Syaiful, mengaku, motivasinya berlipat ganda seusai mengikuti pelatihan di Institut Manajemen BUMDes Nusantara (IMBN). Sekali pun pelatihannya singkat, namun manfaatnya justru berlipat ganda.

Syaiful menyebutkan, dirinya paham bahwa kehadiran BUMNag bukan semata-mata menghasilkan laba sebesar-besarnya, tetapi ada nilai yang harus menjadi perhatian. Nilai itu, harus mampu memberdayakan masyarakat. Sasaran pemberdayaan dimaksud, usaha yang dijalani masyarakat tersebut membawa keberkahan. Muaranya pada sosial benefit, bukan profit oriented.

Ia kemudian memberikan ilustrasi, di wilayah tersebut, selama ini, kehidupan masyarakat cenderung agak tergantung kepada rentenir. Pinjam empat, bayar tujuh. Masyarakat tak bisa bergerak banyak. Kehidupan mereka terkungkung, berbalut hutang.

Berangkat dari kondisi tersebut, BUMNag Pakandangan Emas menghadirkan produk syariah. Syaiful tak berkeberatan kalau BUMNag Pakandangan Emas disebut juga BUMNag Syariah, “BUMNag Pekandangan Emas merupakan BUMNag Syariah pertama,” kata Febby Dt Bangso, Ketua Forum BumDes Indonesia Febby Dt Bangso yang juga staf khusus Menteri Desa PDTT.

Konsep usaha yang dijalankan Syaiful melalui BUMNag Pakandangan Emas, lahan pertanian untuk budidaya jangung disewa dari lahan masyarakat. Pemilik lahan yang sudah menerima sewa, dilibatkan untuk menggarap hingga panen. Selama proses menggarap hingga panen, mereka menerima bagi hasil.

Produk simpan pinjam syariah mengkedepankan simpanan. Diantaranya simpanan dalam bentuk tabungan haji, tabungan akikah, tabungan nikah, tabungan Idul Fitri dan tabungan pendidikan. Tak satu pun dikenakan biaya pendaftaran atau administrasi. Jadi, berapa pun dana yang disimpan tak akan berkurang. Selama empat bulan berjalan, sudah ada 240 orang yang menyimpan di BUMNag tersebut. Total tabungannya mencapai Rp 170 juta.

Pada sisi lain, Syaiful tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan di Institut Manajemen BUMDes Nusantara (IMBN) angkatan I. Ia menjadi satu dari 20 orang yang mengikuti pelatihan, atas rekomendasi Febby Dt Bangso, Ketua Forum BumDes Indonesia Febby Dt Bangso.

Ia mengatakan, keberadaan pelatihan di IMBN sangat bermanfaat. Banyak pelajaran dan pengalaman yang didapatkan. Materi yang diberikan tak hanya sekadar teori, tetapi lebih banyak dalam bentuk berbagi pengalaman dan aplikasi lapangan.

“Motivasi yang didapatkan saat pelatihan itu pula yang memperkuat bekal saya mengelola BUMNag ini,” jelas jebolan IAIN Imam Bonjol, Padang, ini.

Di kanagariannya, tempat BUMNag tersebut berada, ada ada 150 hektare lahan tidur di Kanagarian Pakandangan. Terlantarnya lahan produktif tersebut karena selain sudah banyak yang merantau, masyarakat juga khawatir terjadi gagal panen. Akhirnya mereka memilih untuk beralih ke mata pencaharian lain.

Menyikapi kondisi itu, Syaiful Rahman mencari alternatif. “Kita sewa lahan tidur tersebut, lalu kita garap bersama mereka,” katanya.

Pengelolaan yang dilakukan, diwujudkan dalam bentuk komitmen bersama. Lahan disewa pertahun, lalu diolah melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag). Tenaga yang dikerahkan untuk menggarap lahan tersebut ditawarkan terlebih dahulu kepada pemilik lahan, dan dibayar berdasarkan kesepakatan yang nilainya bervariasi. “Saat panen, mereka juga diberitakan bagi hasil,” kata Syaiful.

Kini, sudah delapan hektare lahan tidur masyarakat yang disewa Bumnag Pakandangan Emas, dan sebanyak 3,5 hektare sudah ditemani jagung. Panen perdana bulan depan. “Sisanya belum bisa kami garap karena terbentur modal awal,” katanya sembari menyebutkan bahwa setiap hektare dibutuhkan anggaran Rp 20 juta untuk persiapan lahan hingga panen.

Pengelolaan pertanian jagung tersebut merupakan salah satu dari tiga unit usaha yang dilakukan BUMNag Pakandangan Emas. Usaha lain adalah Unit Simpan Pinjam Syariah dan Bank Sampah.

Unit Bank Sampah juga sudah menghasilkan. Diakui Syaiful, nilainya masih kecil, rata-rata Rp 2 juta perbulan. Pengelolaannya masih terbatas karena belum lengkapnya peralatan. “Kami belum memiliki mesin pengolah plastik,” katanya sembari menyebutkan bahwa jika mesin itu dimiliki maka sampah plastik akan bisa diolah menjadi minyak tanah dan fapping blok.

Wujud nyata apresiasi tersebut, BNI bersedia memberikan bantuan mesin pengolah plastik sebagai wujud kemitraan BNI dengan Kemendes PDTT. (rilis/raksum)