BUMNag Percontohan Nasional

Oleh: Ratna Dewi Andriati*

176

Ketika berangkat menuju Padang, Sumatera Barat, saya mengantongi catatan, Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag,—secara Nasional disebut Bumdes [Badan Usaha Milik Desa]—) Pakandangan Emas sudah layak dijadikan Bumdes Percontohan Nasional. Saya tak sabar, ingin melihat lebih dekat, bagaimana sesungguhnya Bumnag tersebut.

Kantornya terletak di jalan utama, jalan negara, Padang – Bukittinggi. Ukurannya tidak terlalu besar. sedikit teras, ada lobi dengan sebuah meja resepsionis plus beberapa kursi tamu. Persis di belakang resepsionis, ada struktur pengelola Bumnag.

Masuk ke dalam, ada enam meja digabung menjadi satu. Di antara meja itu, dua kursi membelakangi jalan raya. Satu kursi panjang menghadap ke jalan raya. Di sebelah kirinya, sebuah kursi panjang lagi, menghadap ke selatan. Dua kursi panjang tersebut, biasanya digunakan orang untuk kedai di kampung.

Sebuah kursi, bersandaran agak tinggi, menghadap ke utara. Ada tersudut di samping lemari, di bawah foto Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Kursi itu, sehari-hari digunakan Direktur Bumnag Pakandangan Emas Syaiful, yang berada satu ruangan dengan stafnya.

Masuk ke dalam, ada sedikit tempat diberi pembatas. Terbentang beberapa lembar sajadah. Juga ada mukena dan al qur’an. Di bagian lain, ada dapur dan sebuah kamar mandi. Semuanya berada dalam lingkup bangunan permanan yang tidak terlalu besar.

Awalnya, ada beberapa anggota rombongan yang saya bawa, terdiri dari 26 orang Kepala PMD daerah tertinggal di Indonesia, bertanya-tanya; benarkah ada yang bisa dijadikan contoh dari Bumnag yang kantornya biasa-biasa saja? Ah, mulanya, seperti ada keraguan dari mereka.

Hop! Semua terdiam. Semua melontarkan rasa kagum. Termasuk saya. Usai mendengar ekspos Direktur Bumnag Pakandangan Emas dan tanya jawab, kami kemudian di bawah masuk ke ladang jagung. Kesempatan ke ladang jagung ini dimanfaatkan semua tamu untuk bertanya kepada siapa saja yang ditemui di lapangan. Saya juga begitu.

Ini fakta yang didapatkan di lapangan; Bumnag Pakandangan Emas berdiri akhir tahun 2017. Dalam usia muda, ia sudah dapat tempat di hati masyarakat karena dikelola oleh anak muda, tokoh agama di kampung mereka.

Program awal yang diluncurkan, benar-benar menarik perhatian masyarakat. Produk yang dimilikinya, simpan pinjam syariah, bank sampah, pertanian, budidaya jagung dan home industri. Sejak diluncurkan, kini baru mengembangkan simpan saja dulu, untuk pinjam belum. Kata Syaiful, sang anak muda itu, namanya saja simpan pinjam. Simpan dulu, baru nanti pinjam.

Bumnag ini melangkah dengan cara tak biasa. Modal awalnya, Rp 225 juta. Modal awal itu, tak hanya sekadar penyertaan modal dari Nagari, tetapi juga menghimpun saham dari berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat di kabupaten tersebut sangat antusias. Setiap lembar saham yang dilepas, bernilai satu juta rupiah. Pemegang saham pejabat setempat hingga masyarakat umum. Ada wakil bupati, anggota DPRD kabupaten, pejabat di Pemkab Padangpariaman, tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Mereka benar-benar sangat percaya.

Saya sempat diskusi dengan salah seorang pemegang saham. Namanya, Suhatri Bur. Beliau saat ini Wakil Bupati Padangpariaman. Katanya, apa yang dilakukan pengelola Bumnag Pakandangan Emas merupakan langkah maju untuk meningkatkan pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat. Ia tak segan-segan langsung menerima tawaran pengelola Bumnag.

Kita harus kagum pada langkah yang sudah dilangkahkan di Bumnag ini. Benar, keuntungannya belum seberapa, tapi efek domino yang diluncurkannya patut diacungi jempol. Bumnag ini lebih berorientasi pada sosial benefit, bukan profit oriented.
Ini buktinya; selama ini, masyarakat tergantung kepada rentenir. Pinjam empat, bayar tujuh. Ada yang bayar delapan. Kehidupan dan perekonomian masyarakat tak banyak bergerak. Stagnan. Mereka terus terbalut hutang.

Lalu, Bumnag Pakandangan Emas menghadirkan produk syariah. Unit usaha yang dihadirkan, berupa lahan pertanian untuk budidaya jagung disewa dari lahan masyarakat. Di Pakandangan, ada 150 hektare lahan tidur. Lahan itu terlantar karena banyak warganya yang merantau. Selain itu, masyarakat takut berladang karena takut gagal panen. Akhirnya Bumnag menyewa lahan pertahun. Diolah melalui pengelolaan Bumnag.

Pemilik lahan yang sudah menerima sewa, dilibatkan untuk menggarap hingga panen. Selama proses menggarap hingga panen, mereka menerima bagi hasil. Bayangkan; lahannya disewa, mereka dipekerjakan di lahan yang disewa dan menerima upah dari pekerjaannya. Saat panen, menerima bagi hasil pula. Benar-benar luar biasa!

Kini, sudah delapan hektare lahan tidur masyarakat yang disewa, sebanyak 3,5 hektare sudah ditemani jagung. Panen perdana bulan depan. Sisanya belum bisa kami garap karena terbentur modal awal. Setiap hektare dibutuhkan anggaran Rp 20 juta untuk persiapan lahan hingga panen.
Pengelolaan pertanian jagung tersebut merupakan salah satu dari tiga unit usaha yang dilakukan Bumnag Pakandangan Emas. Usaha lain adalah Unit Simpan Pinjam Syariah dan Bank Sampah.

Produk simpan pinjam syariah dalam bentuk tabungan haji, tabungan akikah, tabungan nikah, tabungan Idul Fitri dan tabungan pendidikan. Tak satu pun dikenakan biaya pendaftaran atau administrasi, sehingga tak satu-sen pun uang masyarakat yang berkurang. Selama empat bulan berjalan, sudah ada 240 orang yang menyimpan di Bumnag tersebut. Total tabungannya mencapai Rp 170 juta.

Unit Bank Sampah juga sudah menghasilkan Rp 2 juta sebulan. BNI kemudian bersedia memberikan bantuan berupa mesin pengolah plastik. Ada rencana luar biasa lagi. Rencanya plastik tersebut akan diolah menjadi minyak tanah dan fapping blok.
Apalagi yang istimewa dari keberhasilan Bumnag Pakandangan Emas ini menjadi salah satu Bumdes Percontohan Nasional? Dua hal paling menonjol. Pertama, orientasi kepada sosial benefit, bukan profit oriented. Catat, manfaat sosial bagi lingkungan lebih bernilai guna dibanding yang lain. Multiflayer-effeknya lebih terasa. Kehadiran Bumdes ditujukan untuk lebih menggerakkan lingkungan sosial dimana Bumdes tersebut berada.

Kedua, yang satu ini, sosok sentral. Namanya, H.Febby Datuk Bangso. Anak muda asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ini menjadi aktor penting di balik Bumdes se Indonesia. Ini menjabat sebagai Ketua Forum Bundes Indonesia. Selama ini berperan mendorong kesuksesan sejumlah Bumdes di Indonesia.

Pada banyak kesempatan, ia sering menyampaikan kerisauannya kepada saya. Salah satu obsesi besar yang dimilikinya; mendorong dan menggerakkan agar Bumnag di kampung halamannya, Sumatera Barat, bisa berkembang, bergerak dan berdayaguna bagi lingkungannya. Menjadi percontohan bagi Bumdes di tanah air.

Awalnya, ketika saya hadir di Bumnag Pakandangan Emas, saya menduga kalau orang yang biasa saya panggil Datuk Febby ini akan terlihat senang dan berbunga-bunga. Tapi, saya melihat ia justru biasa saja. Saya heran.

“Harus ada yang lain,” katanya ketika saya tanya. Obsesinya sangat besar. Tidak. Ia memberikan ilustrasi kepada saya, jika ada banyak Bumnag di Sumbar yang bisa jadi percontohan Bumdes di tingkat Nasional, maka pada saatnya nanti Sumbar akan memiliki agenda kunjungan kerja, belajar sambil wisata. Bumnag Percontohan Nasional akan menjadi “destinasi” untuk belajar bagi puluhan ribu Bumdes, dinas, lembaga pendidikan dan penelitian, sehingga paket perjalanannya bisa disingkronkan dari Bumnag yang satu ke Bumnag lainnya. Tentu akan menambah kunjungan ke Ranah Minang.
Oh, luar biasanya!*

*Penulis adalah Staf Ahli
Bidang Pengembangan Ekonomi Lokal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT)