Datuk Febby: Bisnis BUMNag Banyak Gagal karena Studi Kelayakkannya Lemah

54

JURNAL SUMBAR | Bukittinggi – Dalam Bimtek yang diadakan oleh Kementrian Desa PDTT di Hotel Pusako Bukittinggi tanggal 16 – 18 Juli 2018 terungkap, banyaknya BUMNag atau BUMDes yang tidak berhasil bisnisnya, karena penyusunan study kelayakkan bisnisnya banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada, alias lemah.

Pendirian BUMNag dan BUMDes harus didasarkan pada kebutuhan dan potensi Nagari, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berkenaan dengan perencanaan dan pendiriannya, BUMNag/BUMDes dibangun atas prakarsa (inisiasi) masyarakat, serta mendasarkan pada prinsip-prinsip kooperatif, partisipatif, dan pengelolaan BUMNag /BUMDes harus dilakukan secara profesional dan mandiri.

BUMNag/BUMDes merupakan pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial (social institution) dan komersial (commercial institution). BUMNag sebagai lembaga sosial berpihak kepada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya dalam penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai lembaga komersial bertujuan mencari keuntungan melalui penawaran sumberdaya lokal (barang dan jasa) ke pasar. Dalam menjalankan usahanya prinsip efisiensi dan efektifitas harus selalu ditekankan.

Terdapat beberapa kesalahan yang bisa menyebabkan BUMNag gagal dalam membangun bisnis. Menurut Staf Khusus Mendes PDTT, Febby Dt Bangso, kesalahan pertama adalah memilih ide bisnis yang sembarangan. “Banyak BUMDesa hanya ikut-ikutan atau latah dalam memilih ide bisnis, misalnya memilih ide bisnis yang sudah ketat persaingannya, sudah jenuh pasarnya, memilih ide hanya karena sudah punya produknya,” ujarnya.

“Perlu diingat bahwa keuntungan akan mendatangi ide yang hebat dan inovatif,” tegasnya.

Selanjutnya, tambah Datuk Febby, kesalahan kedua adalah kegagalan dalam mengakses sumber daya yang sebenarnya sudah tersedia tetapi tidak tahu cara mengakses sumber daya (potensi) tersebut. “Kesalahan ketiga adalah mengambil keputusan atau bertindak yang salah, tidak bekerja cerdas, dan tidak bertindak secara efektif (mengarah pada tujuan),” jelasnya.

Berikutnya, kesalahan keempat adalah tidak mampu mengelola bisnis dengan baik dan benar mulai dari masalah keuangan, produksi, kualitas, dan sumber daya manusia. Kesalahan terakhir adalah bersaing tetapi kalah bersaing.

Dikatakannya, beberapa strategi membangun bisnis BUMNag agar tidak gagal atau memperkecil resiko gagal dapat diterapkan. Secara konsep, BUMNag tidak akan gagal jika mengikuti strategi yaitu memilih jenis usaha yang relatif kecil persaingannya terutama bagi BUMNag yang baru berdiri. Banyak peluang-peluang bisnis yang persaingannya rendah namun harus jeli menangkap peluang tersebut.

Kedua, lanjutnya, memilih ide usaha/bisnis yang brilian. Risiko kegagalan bisnis BUMNag akan kecil jika ide bisnisnya benar-benar brilian. Ketiga, betul-betul mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mengetahui bagaimana cara memenuhinya. Keempat, tidak bimbang, fokus, bertindak tanpa henti dan penuh determinasi. Berani dan jangan berhenti bertindak, mencoba, dan selalu memperbaiki kesalahan.

“Terakhir, mengelola sumber daya sebaik mungkin. Arahkan semua sumber daya yang ada ke arah tujuan BUMNag yang sudah ditetapkan,” tutupnya. (Edi Suandi)