Ditjen PDT Gencar Kenalkan Ekonomi Digital di Daerah Tertinggal

36

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Samsul Widodo menjadi keynote speaker dalam acara Deep Dive Series Agritech yang diselenggarakan oleh BLOCK71 Jakarta, kerja sama dengan Ditjen PDT di Gedung Ariobimo Sentral, Jakarta, Rabu (25/7).

Dalam pernyataannya, pria kelahiran Kediri ini menyampaikan apresiasi kepada anak-anak muda yang hadir dan telah mengembangkan bisnis start-up di Indonesia sehingga bisa membantu para petani dan nelayan dalam memasarkan hasil panennya. “Saya salut dengan generasi milenial ini, yang sangat inovatif dan kreatif dalam mengembangkan ekonomi digital”, ujar Samsul Widodo.

Menurut alumnus FISIP Universitas Jember itu, pemerintah harus berperan dalam mendukung berkembangnya bisnis start-up di Indonesia. “Saya berusaha menciptakan ekosistem agar para pengusaha muda ini bisa tumbuh”, tambahnya.

Samsul Widodo memang sedang gencar memperkenalkan ekonomi digital kepada masyarakat, khususnya yang berada di daerah tertinggal. “Sampai dengan saat ini, mulai dari Januari kurang lebih kami sudah bertemu dengan 30 perusahaan start-up, dan beberapa diantaranya sudah mulai terlihat hasilnya, seperti pemasaran alpukat Soe melalui RegoPantes dan lain-lain”, jelasnya.

Ia menambahkan, dengan menjual secara online, para petani mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan menjual kepada pengumpul ataupun pedagang.
Persoalan petani selama ini adalah mereka tidak bisa menjual hasil panennya dengan harga tinggi, bahkan tak jarang hasil panen mereka sulit untuk dijual, karena tidak adanya pasar atau pembeli.
“Di Kabupaten Tojo Una Una, kita sudah kerja sama dengan Hexa Agro sebagai offtaker hasil jagung di sana. Kami juga menggandeng Bank BNI untuk memberikan Kredit Usaha Rakyat kepada para petani,” ungkap Samsul.

Dengan demikian para petani tidak perlu lagi bingung untuk menjual hasil panennya dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjualnya ke tengkulak.
“Saya memiliki ambisi setiap 1 kabupaten memiliki 10 produk unggulan yang siap dijual secara online, karena kami sudah kerja sama dengan BLANJA.com, di situ sudah disediakan tempat untuk menjual produk-produk dari daerah tersebut”, tutupnya.

BLOCK71 Jakarta merupakan ecosystem builder dan global connector yang bertujuan menghubungkan para pelaku start-up agar mendapat akses pasar internasional, sekaligus mendukung inovasi dan pengembangan kewirausahaan di Indonesia dan Singapura. Hingga saat ini, telah ada 23 start-up yang bergabung dalam BLOCK71 Jakarta, salah satunya Growpal, RegoPantes, dan CROWDE yang sudah menjalin kerja sama dengan Ditjen PDT. (rilis)