Identifikasi Geologi, Mahasiswa STTIND Padang Geowisata ke Geopark Silokek

93

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Untuk melengkapi persyaratan lulus mata kuliah Geowisata Tambang, Mahasiswa/Mahasiswi Sekolah Tinggi Teknologi Industry (STTIND) Padang melakukan perjalanan geowisata tambang ke kawasan Geopark Silokek, di Kabupaten Sijunjung, Minggu (15/7/2018)

:Untuk itu, mahasiswa diminta untuk melakukan identifikasi geologi seperti geomorfologi, litologi dan struktur geologi. Identifikasi GEOSITE disetiap STOP SITE yang disinggahi dan mengambil koordinatnya, mengambil dokumentasi, dan berdiskusi dengan pengelola atau warga sekitar”, kata Dian Hadiyansyah melalui pesan WhatsAap nya, Kamis (19/7/2018).

Peserta yang berjumlah 50 orang ini datang ke Geopark Silokek didampingi oleh dosen pembimbing yaitu, Dian Hadiyansyah ST., MT, Riam Marlina ST., MT dan Ahmad Fadhly ST., MT, sambung Dian.

Rombongan ini memulai Perjalanan menggunakan 2 bus pariwisata pukul 07.30 Wib dari Kota Padang dan sampai di Silokek pukul 10.30 Wib.

Kenapa dipilih lokasi di Geopark Silokek ini, karena Silokek merupakan kawasan geopark yang terletak di formasi kuantan dan jalur sesar naik, formasi batuan pada umumnya adalah batuan gamping atau yang juga dikenal sebagai batu kapur dan juga terdapat batuan pasir, kata Dian Hadiyansyah.

Dijelaskannya bahwa, Diperkirakan umur batuannya berkisar antara 265 – 360 juta tahun yang lalu. Serta di Silokek tersebut juga terdapat sungai dengan nama sungai batang kuantan, dan air tersebut mengalir sampai ke daerah Provinsi Riau.

Geopark Silokek -Sijunjung memiliki banyak stop site yang bisa dikunjungi, antaranya adalah Ngalau Basurek, Pasir Putih, Air Terjun Batang Tae, Jembatan Sangkiamo, Ngalau Talago, Pulau Laan, Air terjun palukahan, Ngalau sipungguak, Ngalau batang lansek, Ngalau aie angek dan beberapa kawasan yang meliputi kekayaan bioherritage, culture herritage seperti kampung adat sekitar lokasi geopark silokek-sijunjung.

Situasi dan kondisi lapangan yang cerah membuat mahasiswa semangat berjalan menuju lokasi geopark silokek dari gerbang utama dengan menikmati sajian alam yang ditawarkan dari pesona alam silokek yang bisa disebut silokek sebagai warisan alam yang terletak di jalur patahan sumatra.

Hal ini, membuat silokek semakin terlihat eksotis dengan keragaman alam, flora fauna sepanjang mata memandang dengan budaya yang masih kental dengan keanekaragamannya.

Ngalau Basurek merupakan sebuah gua yang didalamnya terdapat banyak Stalaktit dan Stalakmit yang bagus sehingga membuat gua tersebut berkesan dan indah.

Sedangkan diluarnya terdapat taman yang cantik sehingga disana dapat beristirahat dengan nyaman karena di depan gua juga terdapat aliran sungai batang kuantan yang membuat suasananya menjadi lebih tenang dan nyaman.

Disini mahasiswa dapat beristirahat untuk Sholat, makan, mengamati dan mengambil gambar untuk dokumentasi, serta bisa berdiskusi dengan pengelola dan warga sekitar, terang Dian.

Setelah selesai di ngalau basurek dan berdiskusi dengan pengelola dan warga sekitar, mahasiswa lanjut ke stop site berikutnya yaitu Pasir Putih, sesuai dengan namanya pasir disana memang berwarna putih.

Disungai ini para pengunjung bisa melakukan arung jeram bagi yang suka dan ingin menguji Adrenaline-nya. Sama dengan hal sebelumnya mahasiswa diminta untuk mengamati dan mengambil gambar untuk dokumentasi, serta bisa berdiskusi dengan pengelola dan warga sekitar.

Setelah selesai mengamati di pasir putih, puas bermain, dan bersantai mahasiswa bersiap untuk pulang karna waktu juga sudah sore, dengan menggunakan mobil yang disewa tadi untuk mengantarkan ke tempat bus yang digunakan sebelumnya, tambah dian.

“Pesona alam silokek sangat membekas bagi kami semua sehingga sulit sekali meninggalkan kawasan geopark ini, Alam mengajarkan kami disaat kita merawat dan menghargai alam tersebut, alam tersebut akan memberikan hal yang tidak kita sadari dengan kekayaanya yang luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT dengan alam geopark silokek yang berdampak bagi masyarakat sekitar,” ucap Dian, yang juga temasuk Tim Geopark Ranah Minang itu. Andri Kampai