Mendes PDTT Ajak Pengusaha Unggas Terapkan Bisnis Model Prukades

58

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Dalam dunia usaha, perubahan adalah keniscayaan. Apalagi di era revolusi industri 4.0 perubahan lebih cepat. Hal tersebut harus dibarengi dengan inovasi dan cepat menangkap peluang supaya bisa terus mengikuti perubahan.

“Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas (GPPU) juga pasti bisa menghadapi perubahan asal punya bisnis model yang jelas. Saya ajak GPPU untuk masuk di peluang-peluang model Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades),” kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo saat menjadi narasumber dalam Kongres XII GPPU dengan tema “FGD GPPU Menghadapi Tantangan Nasional, Regional, Global ‘Siapkah?” di TMII, Jakarta (26/7).

Menteri Eko melanjutkan, bisnis model Prukades ini bisa meng-creat tenaga kerja di desa. Ia mengasumsikan jika angkatan kerja di desa bisa menghasilkan Rp 2 juta saja maka dalam satu bulan akan ada Rp 2 Triliun. Jika Rp 1.000 Triliun dalam satu bulan maka akan tercipta Rp 12.000 Triliun dalam satu tahun.
Angkatan kerja akan naik, separuh angkatan kerja ada di desa.

“Silakan GPPU kalau masuk, buat model kemitraan, bikin rumah potong, bikin desa wisata yang menawarkan makan ayam. Kerja sama juga dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk bikin kafe-kafe di tengah sawah seperti di Pujon Kidul, bikin desa wisata dengan menu makan ayam, wisata ayam dst akan meningkatkan konsumsi ayam. Manfaatkan kesempatan pembangunan di desa,” ungkapnya membangkitkan minat para pengusaha unggas.

Medes PDTT menekankan pentingnya pelaku usaha unggas agar bisa menanggapi perubahan dengan cepat di era sekarang ini.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian Sugiono mengatakan bahwa GPPU ini salah satu
pejuang protein hewani Indonesia.
Hasil audit GPS/PS adalah 700ribu lebih, menurutnya angka tersebut menunjukkan hasil audit surplus dan membuktikan isu penyakit unggas salah.

“Ekonomi akan turun, kalau peternak hancur. Tidak apa-apa harga mahal, pedagang untung, masyarakat beli, daripada harga murah dan tidak ada yang beli,” selorohnya.

Ketua Umum GPPU Krissantono meyakinkan bahwa organisasi ini tidak mungkin menghadapi dan memikul beban sendiri, karenanya perlu kerja sama dengan pihak luar termasuk pemerintah.

“Kita perlu Pak Mendes karena peternak-peternak ada di desa, siapa tahu ada kerja sama,” harapnya. (rilis)