Stabilkan Harga Sawit (TBS) di Pessel, Segera Tambah Pabrik Pengolahan

Oleh Yuharzi Yunus

133
Yuharzi Yunus

Apa yang tidak bisa dibuat oleh Incaya Raya. Begitu pada akhirnya kesimpulan saya setelan membaca hasil diskusi teman-teman di grup WhatsApp, terkait anjloknya harga Sawit TBS (Tandan Buah Segar) di beberapa daerah kabupaten di Sumatera Barat yang warganya memiliki kebun sawit swadaya.

Ada dua faktor yang penyebab anjloknya harga sawit di Sumbar, menurut Wagub Sumbar Nasrul Abit, pertama disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan pabrik di daerah ini, meskipun ada, pabrik itu hanya berkapasitas rendah, dan bahkan tidak mampu menampung mengolah produksi kebun sawitnya sendiri. Kedua disebabkan karena rendement sawit hasil kebun swadaya masyarakat, khusunya di Pesisir masih sangat rendah dibanding produksi sawit kebun inti perusahaan.

Rendement serta kwalitas produksi sangat ditentukan bibit, kata Mantan Wakil Bupati Drs H Syafrizal Ucok, bibit sawit yang ditanami oleh petani swadaya, berasal dari bibit yang mereka dapatkan dari pedagang bibit jalanan dan tentu tidak bersertifikasi seperti yang ditanami oleh kebun kebun inti.

Namun alasan ini mentah setelah seorang praktisi yang mengeluti dunia persawitan di Pelembang mengatakan bahwa sawit produksi perkebunan swadaya itu dari aspek kwalitas produksi, justru lebih bagus dibanding dengan sawit bersertifikat. Praktisi itu menganalogikan, lihat saja ayam kampung dengan ayam negeri, mana yang enak? Mana yang diminati, pastilah enak ayam kampung.

Meskipun untuk produksi sawit tidak persis sama dan tidak dapat dianalogikan dengan. Ayam kampung dan ayam Negeri, pabrik kami mematok harga paling bisa ditekan Rp100/kg, tetapi di Sumbar dan di Muko Muko Bengkulu Utara harga patokan sangat signifikan anjloknya, bisa mencapai Rp 500/kg.

Dengan dalih alasan kwalitas dan rendemen sawit, membuat pemilik pabrik bali tak bali ketika menerima pasokan TBS dari pedagang lokal. Apalagi ditambah dengan alasan gudang penuh akibat over produksi yang tak bisa tertampung oleh gudang pabrik.

Saya pikir itu hanya sebagai akal-akalan, dalam istilah kerennya tindakan itu hanya semacam strategi untuk menekan harga sawit hasil kebun milik masyarakat. Tentu ini tidak dapat diterima oleh mereka yang mau mengasah logikanya.

Pasalnya, kalau benar gudang penuh, produksi kebun inti tak dapat dapat terlayani oleh pabrik yang mereka miliki, kenapa harus menekan harga sampai turun mencekik ke angka Rp 500,-/kg dari patokan harga yang telah ditetapkan oleh Asosiasi pengusaha Pabrik Sawit, Dinas Perkebunan, Asosiasi petani Sawit dan LSM?

Artinya tindakan menekan harga sawit oleh pemilik pabrik tidak bisa ditolerir sebab yang membuat patokan harga itu adalah termasuk pemilik pabrik itu sendiri.

Lantas kini mereka sendiri yang melanggar aturan itu.

Di Bengkulu beruntung karena Gubernurnya telah mengeluarkan peraturan yang mengatur terkait harga sawit berlaku di daerahnya.

Dengan adanya aturan itu, seorang Plt Bupati di Bengkulu Selatan, seperti yang diberitakan antaranews segara akan memanggil pengusaha pabrik sawit di daerah untuk memberlakukan harga sawit sesuai dengan harga patokan yang telah dibuat dan disepakati bersama.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, kemaren telah lebih dahulu megeluarkan penyataan yang sama dengan Plt Bupati Bengkulu Selatan itu.

Kita berharap setelah nanti pihak pengusaha pabrik bertemu dengan Bupati Pesisir Selatan maupun Plt Bupati Bengkulu Selatan, akan dapat membawa angin segar bagi petani sawit di Pesisir yang kata salah seorang anggota DPRD Sumbar Saidal Masfiuddin SH, luas kebun sawit swadaya di Pesisir ada sekitar 141.000 Ha.

Dari diskusi anggota grup WhatsApp juga saya baru tahu sekarang sebenarnya untuk membangun pabrik sawit itu banyak pengusaha yang berminat, namun terkendala dalam hal dana.

Pihak bank di Sumbar kurang percaya memberikan pinjamannya kepada pengusaha yang telah membebaskan lahan untuk membangun pabrik bahkan pengusaha itu telah mengantongi izin untuk mulai membangun pabrik, tapi akhir gagal ditengah jalan disebabkan kekurangan dana untuk memulai proyeknya.

Namun demikian Bos Incasi Raya, satu-satunya pengusaha yang mendapat fasilitas untuk tidak memberikan plasma saat membuka kebun sawit di Pesisir Selatan, jika punya hati nurani bisa menambah jumlah pabrik pengolahan sawit ini.

Hanya Incasilah satu-satu pengusaha yang bisa membantu para pemilik kebun sawit swdaya ini. Caranya? Ya…, itu tadi…, membangun pabrik dengan kapasitas yang bisa menampung seluruh produksi sawit di Kabupaten Pesisir Selatan.

Hal ini akan terealisasi apabila bos Incasi Raya memiliki komitmen yang benar-benar kuat untuk membantu Pemda Sumbar mengarakan roda perekonomian di Sumbar lebih kencang lagu dibanding yang telah dilakukan hari ini dan tahun tahun belakangan. (Penulis adalah wartawan senior di Pesisir Selatan