Tak Terurus, Objek Wisata Mukomuko PLTA Maninjau “Basalemak Peak”

61

JURNAL SUMBAR | Agam — Sejumlah obyek wisata di Kabupaten Agam belum tergarap dengan maksimal, dan ada dalam kondisi tidak terurus.

Seperti yang disaksikan obyek wisata Ambun Pagi yang berlokasi sebelum menurun ke Kelok 44. Objek wisata ini terlihat tidak dikelola dengan baik. Lokasi tidak terawat dan terkesan semberawut.

Begitu juga di Maninjau. Di danau yang dipenuhi kerambah jala apung itu banyak sampah terapung apung di dalamnya.

Yang paling parah adalah di obyek wisata di Muko-muko PLTA Maninjau. K3-nya benar-benar sangat kurang. Sampah berserakan dimana-mana, mulai tempat parkir sampai di taman-taman dan di pinggir danau.

Obyek wisata yang berada di ujung danau Maninjau nagari muko muko ini punya daya tarik, tapi sayang kondisinya basilemak peak. Kovel-kovel tempat duduk meniknati indahnya danau Maninjau sangat kotor, terkesan tidak dibersihkan sama sekali oleh petugas.

Padahal, lokasi ini menjadi salah satu tujuan wisatawan domestik, karena di sini ada lokasi memancing, ada perahu dan speedboat untuk mengelilingi tiga pulau dalam danau.

Biaya masuk murah meriah. Di luar hari libur dan Minggu hanya Rp3.000,-.

Menurut para pedagang yang berjualan di obyek wusata ini, areal obyek wisata ini dikelola oleh pihak ketiga, tetapi perbaikan-perbaikan dilakukan oleh pemda. “Pihak ketiga yang mengelola terkesan hanya memetik biaya masuk dan parkir, dan memungut uang kebersihan kepada pedagang setiap hari Minggu dan libur,” ujar mereka pada media ini dan meminta jati dirinya tidak ditulis.

Widya Wati salah seorang pengunjung yang diminta komentarnya tentang kondisi obyek wisata ini mengaku sangat kecewa dengan kondisi K3-nya yang tidak terawat. “Padahal ini potensi wisata yang sangat bagus dan diminati wisatawan,” ujarnya.

“Kemana dan apa saja kerja orang Dinas Pariwisatanya? Apakah orang-orang Dinas Pariwisata tidak pernah meninjau kondisi obyek wisata yang ada di wilayahnya?”, tanyanya.

Bagaimana menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa bagi Pemkab Agam kalau obyek wisatanya tidak terurus seperti ini.
Apakah orang orang Dinas Pariwisata Agam ini tidak pernah melakukan study banding ke daerah yang pariwisatanya telah maju seperti ke Bali atau Jokja umpanya, tambah Widya Wati dengan ekspresi wajah yang kecewa melihat obyek wisata yang berpotensi mendatang PAD Bagi Pemkab Agam itu “basilemak peak”.

Kesannya, pemasukan oke, tetapi pemeliharaan dan menjaga K3-nya ogah. Kapan mau maju kalau pola pikirnya seperti itu, tegasnya. (yus)