Di Peluncuran Buku “Di Balik Reformasi 1998”, Mendes PDTT Ajak Move On

106

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Perjalanan demokrasi Indonesia dari rezim orde lama hingga reformasi terus mengalami dinamikanya. Pascareformasi, secara bersama-sama pemerintah dan partai politik berhasil menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia dan negara yang mampu melaksanakan pembangunan ekonomi di tengah persaingan global yang ketat.

Menghadiri peluncuran buku karya Laksamana Sukardi yang menyajikan bahasan tersebut yang berjudul “Di Balik Reformasi 1998” yang merupakan Catatan Pribadi Laksamana Sukardi, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo menyambut baik hadirnya buku ini karena bisa dijadikan pembelajaran dan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.

“Saya menyambut baik buku ini. Timing-nya tepat karena mendekati hari kemerdekaan. Selama 73 tahun Indonesia merdeka, mengalami beberapa rezim, orde lama, orde baru, reformasi, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Mudah-mudah buku ini bisa merefresh kita untuk tidak mengulang kesalahan masa lalu atau dendam masa lalu, kita mesti move on,” katanya saat menghadiri Peluncuran & Diskusi Buku “Di Balik Reformasi 1998” di Menara Imperium Jakarta, Senin (6/8).

Ia melanjutkan, tiap rezim mengalami dinamikanya. Pada saat rezim orde lama, walaupun negara masih miskin tapi berani menentang PBB dan mampu mengikuti Asian Games. Pada rezim orde baru mulai meningkat ekonominya. Kemudian dikoreksi zaman reformasi yang diharapkan membuat Indonesia dikenal dan ekonomi lebih maju.

“Kita negara besar. Kita tidak sedang melakukan lari sprint, nafas kita bisa habis. Kenapa ada soft coming? Perlu ada wisdom dan jiwa besar untuk memaintenence bangsa ini. Tidak boleh menuntut kesalahan masa lalu,” katanya.

Dirinya melanjutkan, Indonesia adalah Negara dengan 1 Triliun GDP. Negara no 16 di dunia. Tahun 2045 diprediksi menjadi negara no 4 dunia.

Sementara itu, Laksamana Sukardi mengatakan tujuan penyusunan buku ini adalah agar bangsa Indonesia tidak melupakan sejarah dan mampu menjaga warisan yang diberikan gerakan reformasi.

“Buku ini berisi catatan pribadi saya, yang pada sekitar tiga dasawarsa silam, sebagai seorang pemuda, memutuskan menanggalkan jabatan sebagai seorang eksekutif profesional bidang perbankan untuk ikut mendukung gerakan reformasi Indonesia. Buku ini juga mengungkap catatan pengalaman saya di era pascareformasi, sebagai menteri yang dituntut bergelut memecahkan berbagai masalah politik-ekonomi akibat krisis multidimensional 1998,” terangnya.

Pakar Ilmu Politik dari Northwestern University, USA, Jeffrey A. Winters mengatakan Indonesia sudah memiliki demokrasi yang cukup matang. Ditandai dengan pemilihan umum tepat waktu, setiap pemilu tanpa banyak kekerasan, banyak partai, dan punya sistem politik untuk mengetahui siapa sebelumnya yang akan menang.

“Banyak tanda bahwa Indonesia maju,” pungkasnya.

Peluncuran dan diskusi buku ini dihadiri juga oleh beberapa menteri kabinet kerja, Sukmawati Soekarnoputri, para pembicara peneliti politik Sirojudin Abbas, dan Firman Noor. (humas kemendes)