Pecahkan Rekor MURI, 4080 Peserta Ikuti Senam Tari Gemu Famire Kodim 0310/SSD

235

JURNAL SUMBAR | Sawahlunto – Ribuan warga di tiga kabupaten daerah, Sawahlunto, Sijunjung dan Dharmasraya antusias pecahkan rekor MURI.

Selasa (4/9/2018), 4080 orang peserta mengikuti senam Tari Gemu Famire Kodim 0310/SSD. Pemecahan Rekor Muri dilakukan Kodim 0310/SSD yang dipimpin Dandim, 0310/SSD Letkol Inf Irvan Yusri itu jadi kado terindah bagi Kodim 0310/SSD di HUT TNI ke-73.

Dandim 0310/SSD Letkol Inf Irvan Yusri, menyebutkan, pelaksanaan pemecahan rekor Muri itu dilaksanakan dalam rangka HUT TNI Ke-73 Tahun 2018.

“Untuk wilayah Kodim 0310/SSD dilaksanakan di tiga tempat. Kalau di Sawahlunto dilaksanakan di lapangan Ombilin yang diikuti 2000 peserta. Sedangkan di Sijunjung diikuti 1080 orang peserta dan di Dharmasraya diikuti seribuan peserta,” ucap Dandim 0310/SSD Letkol Inf Irvan Yusri.

“Kegiatan ini juga diadakan secara serentak dari Sabang sampai Merauke yang diikuti sebanyak 300.000 orang serta diikuti oleh Personel TNI dan didukung Personel Polri dan Instansi lainnya yang berada ditiap-tiap daerah,” terang Dandim.

“Nah, khusus di lapangan Ombilin Sawahlunto, peserta senam Tari Gemu Famire juga berhasil pecahkan Rekor MURI yang diikuti sebanyak 2000 orang peserta, Sijunjung 1080 orang peserta dan Dharmasraya 1000 peserta,” ucap Dandim 0310/SSD, Letkol Irvan Yusri, SP.

“Tari Gemu Famire ini dilaksanakan secara serentak pada hari Selasa (4/9/2018) ini yang akan disiarkan secara Video Conference dan disaksikan oleh Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf Angkatan dan Pejabat Utama TNI-Polri ditingkat pusat,” sebut Dandim 0310/SSD Letkol Inf Irvan Yusri, SP usai kegiatan.

Peserta Senam Tari Gemu Famire diwilayah hukum teritorial Kodim 0310/SSD itu terlihat begitu antusias mengikuti alunan musik dan goyang Tari Gemu Famire.

Mungkin banyak yang bertanya, apa itu Gemu Famire? “Gemu Fa Mi Re”, ada juga yang menyebutnya “Maumere”, memiliki syair serta irama musik yang riang. Para pendengar seakan diajak untuk bergoyang.

Berkat musik yang enak didengar, lagu ini sering didendangkan di berbagai tempat. Mulai dari pelosok desa, pusat kota di Indonesia, hingga ke mancanegara. Banyak pula yang menyanyikan ulang ke berbagai versi seperti dijumpai berbagai akun media sosial.

Bahkan “Gemu Fa Mi Re” sudah menjadi fenomena tersendiri sejak 2012. Namun sayangnya, kepopuleran “Gemu Fa Mi Re” tidak diiringi dengan sorotan terhadap penciptanya, Nyong Franco. Namanya justru nyaris tak terdengar.

Sosok Nyong Franco yang merupakan penyanyi pria bernama asli Frans Cornelis Dian Bunda itu bermukim di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Ia sempat menceritakan asal usul lagu “Gemu Fa Mi Re” yang ditulisnya pada tahun 2011 di kawasan hutan di pinggir kota Maumere. Kini lagu ini sudah populer bahkan hingga ke kota Arang Sawahlunto, Sijunjung dan Dharmasraya.

Malah para peserta minta kembali bergoyang mengikuti senam Gemu Tari Famire itu. Saptarius