Serius Atasi Stunting, Mendes PDTT Apresiasi Bank Dunia

37

JURNAL SUMBAR | Jakarta – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, mengapresiasi upaya Bank Dunia (World Bank) yang serius mengatasi isu-isu stunting. Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara pada diskusi panel dalam rangka peluncuran buku Aiming High: Indonesia’s Ambition to Reduce Stunting di Financial Club CIMB Niaga Tower, Jakarta, Rabu (19/9).

Ia mengatakan, hal pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi stunting adalah menggali dan mengetahui penyebab dari stunting itu sendiri. Menurutnya, penyebab dari stunting inilah yang kemudian harus diatasi secara masif.

“Kenapa stunting terjadi, kita harus tahu penyebabnya. Pertama kemiskinan, kedua pengetahuan, ketiga infrastruktur dasar yang mana banyak di desa tidak ada sarana air bersih, MCK, listrik, tidak ada tempat agar mereka punya desain ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, sehingga bisa mengurangi stunting,” terangnya.

Salah satu upaya untuk membantu mengatasi penyebab stunting tersebut, lanjutnya, pemerintah menyalurkan dana desa yang dikucurkan sejak tahun 2015. Tahun 2015 dana desa yang diturunkan sebesar Rp 20 Triliun, tahun 2016 sebesar Rp 46,9 Triliun, tahun 2017 sebesar Rp 60 Triliun, dan 2018 sebesar Rp 60 Triliun. Menteri Eko meyakini program dana desa dapat membantu mempercepat pengentasan kemiskinan sehingga penurunan angka stunting juga berjalan lebih cepat.

“Tujuan dari dana desa adalah mengurangi kemiskinan. Mengisi infrastruktur yang kosong di desa, dan memikirkan desa untuk pemberdayaan ekonominya. Dana desa hingga saat ini telah membantu membangun MCK sebanyak 178.034 unit. Ini juga membantu mengatasi stunting. Kemudian kita bantu masyarakat melalui dana desa ini agar pendapatannya meningkat, sehingga ke depan mereka bisa bangun MCK sendiri,” sambungnya.

Sementara itu, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chaves mengungkapkan, sebanyak 9 juta anak dengan usia di bawah lima tahun di Indonesia mengalami stunting. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan manfaat maksimal dari pendidikan karena kondisi otak yang tidak siap untuk belajar.

“Kalau begitu mereka tidak punya kesempatan untuk berkembang. Tidak berkesempatan untuk mendapatkn pekerjaan yang baik. Sehingga pada akhirnya akan menjadi beban untuk pemerintah. Sementara kompetisi di luar sana semakin meningkat tidak hanya di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, masa depan negara Indonesia sangat bergantung pada kesuksesan dalam menangani stunting. Bank dunia mengestimasi bahwa setiap dolar yang dihabiskan untuk mengatasi stunting akan mengembalikan sebanyak 48 kali lipat investasi ekonomi.

“Kita harus menyiapkan anak kita untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja. Kemampuan tenaga kerja harus ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan yang baik. Anak stunting tidak bisa memanfaatkan sepenuhnya pendidikan, walaupun pemerintah memberikan insentif pendidikan,” pungkasnya. humas kemendes