SEMINAR NASIONAL WP2SOSPOL UNP: Peran Mahasiswa Perlu Selaras dengan Tantangan Zaman

34

JURNAL SUMNAR | Padang-Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode perjalanan bangsa, mengingat peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen-momen bersejarah di Indonesia.

Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan. Beberapa tahun belakangan ini telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari masa penjajahan Belanda, Masa Penjajahan Jepang, Masa Pemberontakan PKI, Masa Orde Lama, Masa orde baru, hingga masa Reformasi peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional dengan menghadirkan nara sumber Prof Dr Jimly Asshidiqie, yang digelar Wadah Pengajian dan Pengembangan Sosial Politik Universitas Negeri Padang ( (WP2Sospol UNP) di Auditorium UNP, Jumat (9/11).

Seminar Nasional yang menghadirkan Ketua Umum ICMI itu mengusung tema “Mengatualisasikan Peran Aktif Mahasiswa Ditengah Gejolak 20 Tahun Reformasi” berlangsung di Auditorium UNP.

Kehadiran Prof Dr Jimly Asshidiqie, selama seminar nasional kali ini meninggalkan kesan yang mendalam dan menjadikan para mahasiswa memahami bahwa 2018, kini reformasi belumlah usai, masih banyak janji yang belum tertunai. Semangat reformasi yang bergulir sejak 20 tahun lalu masih tersandung berbagai persoalan bangsa.

Jimly Asshiddiqie memaparkan bahwa mahasiswa memiliki tiga modal dasar yang membuat ia mampu disebut sebagai agent of change (agen perubahan) dan agent of social control (agen pengawas sosial) yaitu kekuatan moralnya dalam berjuang karena pada intinya apa yang ia buat adalah semata – mata berlandaskan pada gerakan moral yang menjadi idealismenya dalam berjuang.

Kedua adalah kekuatan intelektualitasnya, melalui ilmu pengetahuan yang ia raih di bangku pendidikan, ia senantiasa ingin mengaplikasiakan segenap keilmuannya untuk gerakan moral dan pengabdian kepada masyarakat, karena baginya ilmu merupakan suatu amanah dan tanggung jawab yang harus diamalkan,

“Yang ketiga adalah mahasiswa sebagai seorang pemuda memiliki semangat dan jiwa muda yang merupakan karakter alami yang pasti dimiliki oleh setiap pemuda secara biologis, dimana melingkupi kekuatan otak dan fisik yang bisa dikatakan maksimal, lalu kreatifitas, responsifitas, serta keaktifannya dalam membuat inovasi yang sesuai dengan bidang keilmuannya,”

Jimly Asshiddiqie juga menambahkan bahwa setiap mahasiswa tidak hanya untuk bergejolak menuntut namun juga harus mengisi diri dengan ilmu pengetahuan serta melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Sehingga UK-WP2SOSPOL sebagai wadah pengakajian dan pengembangan sosial politik dapat menjadi wadah yang netral dalam menyakapi dan mengawal perkembangan sosial politik di UNP secara khususnya karena PT merupakan lembaga teknis bukan lembaga politik.

“Mahasiswa mesti mengawal perkembangan politik di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara umumnya sebagai perwujudan partisipasi mahasiswa dalam agen perubahan, kontrol sosial sebagai generasi penerus bangsa dalam mengaktualisasikam peran aktif mahasiswa ditengah gejolak 20 tahun reformasi,” imbunnya.

Sebelumnya orasi dari Yusuf Baihaqi, salah satu pimpinan WP2Sospol mengawali sesi seminar ini menyebutkan, kemiskinan, kesenjangan, pengangguran, korupsi, kolusi, nepotisme, ketimpangan hukum, dan berbagai problema multidimensi lainnya seakan menjadi badai topan yang tak kunjung henti mendera. Kesemua itu mau tidak mau mengharuskan gerakan mahasiswa tetap hadir di tengah-tengah bangsa sebagai bentuk panggilan sejarah dan aktualisasi peran kaum muda.

Memasuki era milenial dan serbuan globalisasi orasi Yusuf Baihaqi menyimpulkan mahasiswa mesti punya keberanian, mau berkorban, konsistensi dan semangat kontinuitas dalam menyambung napas gerakan. Lalu yang terakhir adalah daya kreativitas yang diejewantahkan dalam eksperimen gerakan yang terus tumbuh dan berkembang sesuai tuntutan zaman dan medan perjuangan.

“Keberanian, pengorbanan, konsistensi, dan kreativitas. Keempat esensi ini menjadi pembelajaran penting yang bisa kita ambil dari para pelaku sejarah gerakan mahasiswa pra-reformasi,” demikian Yusuf Baihaqi.

Sementara itu Rektor UNP, Prof Ganefri, PhD yang diwakili Wakil Rektor 2, Syahril PhD mengapresiasi WP2Sospol UNp yang telah memberikan wadah mengupas peran mahasiswa dalam membangun bangsa.

“Mahasiswa harus memiliki idealisme, berprestasi dalam membangun bangsa,” ujar Syahril sembari membuka seminar nasional.

Sementara itu moderator Abdul Salam, menyimpulkan pra-reformasi dan pasca-reformasi memiliki tantangan tersendiri, namun dalam studi objek kajian filsafat telah mengajarkan bahwa tiap-tiap perkara mempunyai esensinya yang tetap, meskipun sifat-sifat inderawinya berubah dan keadaannya berbeda-beda. Tinggal bagaimana nantinya bisa meramu esensi itu dalam sebuah eksperimen gerakan dengan menghadapkannnya pada kondisi zaman yang tengah dihadapi.

Dalam pelaksanaan Seminar Nasional ini, Rektor UNP, Prof Ganefri hadir setelah diskusi dan tanya jawab berlangsung, dan dipenghujung acara Rektor UNP menyerahkan cenderamaya dan berfoto bersama dengan pimpinan civitas UNP. (Humas UNP/Agusmardi)