Terkait Keluhkan Pelayanan di RSUD Sijunjung, Ini Kata Direktur

436

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Naila Husna, 10 tahun, putri kedua dari Iptu Asril (Kasat Sabhara Polres Sijunjung), hanya bisa merintih ketika ia terbaring di ruang VIP Banio II RSUD Sijunjung, Sumatera Barat, akibat menahan sakit yang dideritanya.

Begitu juga orangtua dari pasien (Iptu Asril (Kasat Sabhara Polres Sijunjung-red), sempat mengeluh lantaran jeleknya dan lambannya pelayanan di RSUD Sijunjung itu. Tak hanya itu, masalah ketidak transparanan managemen RSUD Sijunjung itu soal biaya pengobatan juga dikeluhkan.

“Anak saya masuk ke RSUD Sijunjung saat itu pada 29 Desember 2018 dan dirawat dari ruang kelas satu dan pindah ke VIP ruang VIP Banio II. Setelah 24 jam tak juga ada kejelasan sakit yang diderita dan hanya bilang penyakit virus dan mandel. Tak ada kejelasan hasil labor tentang sakit anak saya itu,” ucap Asril pada awak media Sabtu (12/1/2019) mengisahkan keluhannya itu.

“Di ruang VIP itu masa iya pasien hanya diberi makan tanpa menu tambah, buah dan susu. Karena ketidak bagusnya pelayanan, saya terpaksa membawa pulang anak. Parahnya lagi, hanya dirawat semalam dikenahi biaya yang melangit, yakni mencapai Rp1.783.650, tanpa rincian. Inilah yang jadi tanda tanya bagi saya, padahal anak saya memiliki BPJS dengan nomor kartu 00012/4623121,” ucap Asril kecewa.

Dijelaskan Asril, Managemen RSUD itu hanya memperlihat dasar SK Direktur RSUD Sijunjung, Nomor;445/059/KPTS-Dir/RSUD-2017, yakni tentang tambahan biaya kelas pelayanan Rawat Inap ke kelas VIP Jaminan Kesehatan Nasional Badan Layanan Umum Daerah RSUD Sijunjung.

Karena kesal, lalu Asril pun kemudian membawa anaknya berobat ke RSUD terdekat. “Di RSUD Sawahlunto itu langsung anak saya masuk ke ruang VIP. Hanya dengan waktu diagnosa sekitar setengah jam, alhamdallah penyebab sakit anak saya pun jelas. Sakitnya cuma lekosit rendah (faktor kelelahan). Pelayanannya pun sangat prima dan baik, begitu juga makanan tambahan juga diberikan. Alhamdallah, dengan rawat dari Senin (31/12/2018) pukul 04.30 WIB dan cek out Kamis (3/1/2019) hanya bayar Rp248.883. Nah, kan sangat jauh selisihnya dan juga ada rinciannya,” ungkap Iptu Asril, Kasat Sabhara Polres Sijunjung itu berkisah.

“Seharusnya pihak managemen RSUD Sijunjung itu transparan dan menjelaskan secara jelas pada keluarga pasien. Begitu juga terkait besarnya biaya harus dengan rincian yang jelas dan bukan main ongkong-ongkong saja. Managen RSUD jangan pula alergi jika dikritik masyarakat,” ucap Martius alias Acik salah seorang wartawan di Sijunjung juga menyoroti dilema pelayanan RSUD itu terkesan belum optimal.

Ditambahkan Aciak, begitu sapaan akrab owner Media Cerdas itu, pihak Managen RSUD Sijunjung kan bisa mensosialisasikan ke warga terkait biaya maupun pelayanan di RSUD tersebut. “Sosialisasi itu sangat dibutuhkan masyarakat, jika ada sosialisasi tentang pembiayaan masyarakat pun tak akan bertanya-tanya lagi,”tambah Aciak.

Direktur RSUD Sijunjung, Dr. Diana Oktavia, SpPD yang dihubungi awak media, Minggu (13/1/2019) via telepon selularnya tak pun tak menapik komplain yang disampaikan keluarga pasien.

“Memang benar keluarga pasien itu komplain. Lagi pula hari itu sudah ketemu dan keluarga pasien sudah datang ke RSUD dan pikak kita juga sudah menjelaskan kronplogisnya. Saat itu yang menjelaskan Kabid Pelayanan, KTU, Kabid Kuangan dan petugas VIP terkait kebijakan sesuai SK Direktur RSUD sebelumnya,”ucap Direktur RSUD Sijunjung, Dr. Diana Oktavia, SpPD itu menjelaskan.

“Setiap RS tentu kebijakan bebeda-beda dan itu SK direktur sebelumnya dan nanti akan kami evaluasi. Walaupun sebulan dirawat tetap segitu dan itu tarif paket sesuai ketentuan BPJS dan itu di izinkan Kemenkes terkait tarif antara 20 hingga78 persen. Di RSUD Sijunjung mengambil tarif 50 persen dan malah sudah disetujui orangtua pasien ketika itu,”jelas Dr Diana Oktavia, SpPD, yang juga asli putri asal Koto VII Tanjungampalu itu.

“Ya, jika memang ada keluarga paien merasa berat 50 persen, tentu akan kita turunkan jadi 20 persen dan ini akan kita dudukan,”papar Diana begitu dokter itu disapa. “Kita siap untuk dikririk dan kita juga tidak akan alergi dikritik demi kebaikan,” tambanya Direktur RSUD Sijunjung, Dr. Diana Oktavia, SpPD tersebut.

Sekdakab Sijunjung, Zefnihan, yang dihubungi awak media, Sabtu (12/1/2019) sempat kaget atas dilema yang dialami pasien di RSUD Sijunjung itu. “Kalau begitu nanti kita mintai keterangan dari pihak RSUD Sijunjung tersebut,” jelas Zefnihan kaget atas pelayanan di RSUD. saptarius