Pakai Filosofis Marantau, Eksistensi Safei Seorang Perantau Minang di Papua

254

JURNAL SUMBAR | Padang — Tradisi merantau sudah melekat pada pemuda Minang. Dimanapun pasti “urang awak” bisa ditemukan di rantau. Namun, ditakdirkan merantau di negeri yang jauh kadang membuat orang gamang. Selain mahalnya ongkos pulang, tentu saja hidup sebatang kara di rantau adalah sesuatu yang sangat berani. Pilihan tersebut diambil oleh Safei, guru yang bertugas di sebuah sekolah di pinggiran Manokwari Provinsi Papua Barat.

Safei merupakan salah satu Guru Garis Depan (GGD), program rekrutmen guru jalur khusus yang diselenggarakan oleh pemerintah. Ia ditugaskan di Manokwari, dari 35 rombongan yang dilepas Presiden Joko Widodo di Istana Negara tahun 2015 lalu, ia merupakan satu-satunya guru dari Padang yang ditempatkan di Manokwari. “Awalnya saya sempat gamang, apalagi saya tidak memiliki saudara satu pun di sini, akan tetapi ada pepatah Minang mengatakan, Kok anak pai ka pakan, ikan bali, balanak bali, ikan pajang bali dahulu, kok anak pai bajalan, kawan cari, dunsanak cari, induak samang cari dahulu, kata-kata ini tidak sebatas pepatah tapi prinsip hidup di rantau,”ujar Safei putra kelahiran Pariaman 1986 itu.

Awal datang ke Manokwari, Safei mencari Warung Makan Padang. Ia mencari informasi sebanyak mungkin tentang komunitas dan perkumpulan orang Minang di Manokwari. “Dimana-mana persatuan orang Minang cukup kuat, di Papua hampir di semua kota-kota besar seperti; Sorong, Manokwari, Jayapura, Wamena, hingga Merauke ada perkumpulan persatuan orang Minang. Orang Minang sangat dikenal sebaga komunitas yang maju pemikirannya, orang Minang sangat jarang terdengar ribut dengan suku lain di rantau, orang Minang menyelesaikan masalah dengan kepala dingin,”terang Safei.

Mengabdi di Papua membuat Safei harus rela tidak bisa berkumpul dengan keluarganya setiap lebaran Idul Fitri. Alasannya adalah mahalnya ongkos pulang. Di hari normal tiket pesawat bisa 3 juta, masa liburan tiket pesawat bisa menembus 5 juta. Untuk sekali pulang kampung saya harus mengeluarkan biaya 10 juta, apalagi kalau sudah ada istri dan anak, tentu ongkosnya berkali lipat,”ujar Safei.

Dihadapkan dengan resiko seperti itu, alumni FIK UNP itu tidak patah arang, seperti pepatah Minang, indak rotan akapun jadi, indak kayu janjang di kapiang. Untuk bisa mengakali pulang kampung, Safei terus mengasah keterampilan yang ia miliki sejak dari kampus. Diantaranya bersaing dengan guru-guru Se-Indonesia untuk bisa menang lomba menulis antar guru.

“Saya setiap awal tahun memburu lomba-lomba menulis, dan sayembara yang diadakan pemerintah, biasanya dalam setahun sampai sepuluh program yang saya ikuti sayembaranya, terkadang ada rezeki saya lolos seleksi dan dapat pergi ke luar kota, kesempatan itulah saya gunakan nyambi pulang ke kampung,”ujar Safei kepada penulis, Rabu (13/3).

Pada 6 September 2018 lalu, Safei merupakan salah satu penerima penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk Taman Bacaan Masyarakat Kreatif-Rekretif 2018 yang diadakan di Medan Provinsi Sumatera Utara. Dapat terbang “gratis” ke Medan dimanfaatkan Safei untuk bisa “loncat” pulang ke Pariaman dan ziarah ke pemakaman suadaranya.

“Bulan Desember 2017 lalu saya dapat kabar buruk dari kampung, kakak saya meninggal, mendapat kabar itu saya hanya bisa bersedih di rantau, saya tidak bisa pulang dan hadir dipemakamannya, saya merasa bersalah, namun bagaimana lagi, situasi seperti ini sangat dilema, lalu saya mencari sayembara menulis di internet, kebetulan ada sayembara menulis yang akan diadakan di Medan, saya memburu sayembara tersebut, alhamdulillah saya keluar sebagai pemenang, saya berangkat ke Medan dan sekalian untuk ziarah ke makam kakak saya,” kenang Safei.

Sejak datang pertama kali ke Papua, Safei memang langsung bergabung dengan Komunitas Literasi Noken Pustaka. Bergabung dengan komunitas tersebut ia terus mengasah kemampuan menulisnya. Mantan aktivis pers kampus UNP tersebut terus menggali potensi untuk bisa bersaing dengan guru-guru berprestasi di Indonesia. Pada peringatan Hari Guru Se-Dunia di Jakarta, 2 Oktober 2018 lalu ia merupakan salah satu guru yang diundang Unesco (Organisasi PBB bidang Pendidikan dan budaya) menjadi pembicara. Karantau madang di ulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun, pepatah ini betul-betul dipakai dalam pengabdiannya di Papua.
Safei beberapa kali diundang menjadi pembicara, salah satunya dalam kegiatan yang diadakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam program “penanaman anti korupsi di lingkungan sekolah” yang diadakan di Manokwari.
Bersama Komunitas Noken Pustaka dan rekan-rekannya (Misbah Surbakti, Ali Sunarko) ia mengelola Noken Pustaka untuk mengkampanyekan gerakan membaca sejak dini. Kegiatannya adalah mencari donasi buku dan pelayanan perpustakaan keliling. N

Noken Pustaka saat ini sudah memiliki ribuan buku dan taman bacaan yang tersebar di Manokwari, bahkan Noken Pustaka pernah diundang dalam program “Mata Najwa” yang ditayangkan di Metro TV.

“Literasi di Papua masih jauh tertinggal dibanding wilayah barat di Indonesia, pernah ada penelitian, bahwa tingkat kemampuan membaca anak SD di wilayah timur jauh tertinggal dibanding anak SD di wilayah barat Indonesia, selain masalah guru, keberadaan buku dan perpustakaan di sekolah adalah salah satu penyebabnya, kami mencari donasi buku dan menyumbangkan kembali ke taman-taman bacaan masyarakat, kadang saya menerbitkan buku sendiri, lalu menyumbangkannya secara gratis untuk menambah koleksi bacaan mereka,” tutup Safei.(Agusmardi)