Peninggalan Jepang, Kodim 0310/SS Telusuri Jalur Lokomotif “Kerata Api Maut” Uap di Sijunjung

91

JURNAL SUMBAR | Sijunjung – Sebanyak 25 prajurit TNI Kodim 0310/SS ditambah beberapa wartawan, Selasa (14/5/2019) melakukan ekspedisi trabas bertajuk bakti sosial di jadinya Kodam 1/BB. Rombongan itu dipimpin 5Dandim Letkol Inf Dwi Putranto,SAP MPol dan Kasdim Mayor Inf Herunimus termasuk para perwira Kodim 0310/SS juga ikut.

Dalam ekspedisi tersebut rombongan menelusuri cagar alam Sijujung dan ke indahan Geopark Silokek. Tak hanya itu, rombongan juga melihat langsung bukti sejarah sebuah lokomotif uap kereta api peninggalan sisa Jepang.

Untuk diketahui, jalur transportasi tertua di Sumatera Barat, sama seperti di Jawa, tak lain adalah jalur kereta api. Sebelum menengok jalur kereta api yang melintas di Padang, ada baiknya kita menjenguk  jalur yang agak berbeda, baik dari sisi kesulitan kawasan maupun dari proses pembangunan dan ini terdapat di Kaabupaten Sijunjung. Berikut simak catatan khusus Saptarius Wartawan Madya, Redaktur Jurnal Sumbar.Com dari Sijunjung.

Mungkin banyak yang tidak tahu soal adanya jalur kereta api yang melintasi Muaro Sijunjung hingga Pekanbaru, Riau. Nah, untuk itu pula rombongan Kodim 0310/SS dan beberapa wartawan menelusurinya.

Lokomotif Uap kereta api itu berada di ujung Nagari Durian Gadang, Kecamatam Sijunjung persis dipinggir sungai daerah setempat.yang saat ini masih berdiri kokoh dan menjadi cagar alam Sumatera Barat.

Mungkin kita beranggapan semua jalur kereta api dibangun oleh Belanda, namun untuk jalur ini justeru dibangun di masa pendudukan Jepang. Jalur mati ini tak lain adalah jalur Muaro Sijunjung – Pekanbaru. Yang menarik di kawasan hutan Sumatera ini tak lain adalah sisa lok uap zaman Jepang yang hingga kini masih teronggok di kawasan Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung.

Berdiri sendiri dengan kondisi yang sudah tak lengkap dan karatan, lok uap yang dari rodanya samar-samar terlihat angka 1904 itu sengaja ditempatkan di pinggir  jalan kecil di antara hutan di Nagari Durian Gadang sebagai benda cagar budaya.

Untuk tiba ke lokasi, bukan hal yang mudah karena harus melewati jalanan yang terjal di antara hutan, sungai lebar, dan tebing-tebing. Jarak dari Sijunjung sekitar 18 km tapi harus melalui jalan berkelok yang curam dan sulit dilalui. Rupanya kisah lok uap ini merupakan kisah penindasan puluhan ribu Romusha yang dipaksa bekerja oleh Jepang. Lok uap ini di masa Jepang pernah jadi lok yang menarik kereta di jalur Muaro – Pekanbaru.

Melihat bukti sejarah lokomotip uap kereta api sisa peninggalan Jepang itu, rombongan Kodim 0310/SS pun berkesempatan foto bersama.

Jalur kereta api Muaro-Pekanbaru (Logas), menurut pecinta sejarah kereta api, Tjahjono Rahardjo,  selesai dibangun pada 15 Agustus 1945. Jalur yang kini sudah tak lagi terlihat bekasnya itu juga merupakan kuburan massal sekitar 50.000 romusha. Jalur Muaro – Pekanbaru merupakan bagian dari  jalur  yang  direncanakan pemerintah Belanda untuk menghubungkan  pantai timur dan barat Sumatera.

“Tapi hambatannya sangat berat; banyak terowongan, viaduk dan jembatan harus dibangun. Karena belum dianggap layak, rencana itu tersimpan saja di arsip Nederlandsche-Indische Staatsspoorwegen (Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda).

Tahun 1942, ketika Jepang menduduki Indonesia, mereka menemukan rencana itu. Jalur rel itu akan membuat jalur transportasi yang menghindari Padang dan Samudera India yang dijaga ketat kapal perang Sekutu. “Jalur itu memperpanjang jarinngan Staatsspoorwegen ter Sumatra Weskust (SSS) sepanjang 215 ke pelabuhan Pekanbaru,” begitu tulis Tjahjono seperti di kutif dari Kompas.Com.

Dalam referensi lain disebutkan,  sebagian besar trayek Muaro-Pekanbaru sepanjang 220 km mengikuti jalur yang dirancang Staatsspoorwegen (SS)  pada dasawarsa 1920-an, yang karena krisis ekonomi batal dibangun. Jalur rancangan ini memiliki tanjakan maksimum satu persen. Sekitar 85 persen jalur yang dibangun Jepang mengikuti rencana ini, namun tanjakan maksimum menjadi dua persen.

Perihal jalur kereta api maut, sejarah mencatat, Jepang menorehkan kisah kejam tak hanya di jalur Muaro Sijunjung – Pekanbaru, tapi juga di Banten Selatan di jalur Saketi – Bayah. Sebelumnya, Jepang sudah membuka jalur kematian dari Thailand ke Burma. Sebuah jalur kereta api yang juga sudah direncanakan oleh pemerintah Inggris, namun karena kondisi alam yang berat maka rencana itu dikesampingkan.

Jepanglah yang kemudian mengacak-acak dokumen Belanda dan Inggris dan menemukan rencana jalur tersebut untuk kemudian mewujudkannya melalui tangan, darah, dan nyawa para romusha yang tak hanya terdiri atas bangsa Indonesia tapi juga Australia, Inggris, Amerika, dan Belanda.

Jadi selama Perang Dunia II (1938-1945) Jepang membangun tiga jalur kereta api di dua wilayah di Asia Tenggara yaitu jalur Thailand-Burma, Muaro Sijunjung-Pekanbaru, dan jalur Saketi-Bayah. Jepang menggunakan tahanan yang dipaksa kerja  dan seperti dikirim ke neraka karena puluhan ribu jiwa melayang dalam proyek pembangunan jalur kereta api tersebut. Jalur kereta api di dua wilayah Indonesia itu tak lagi bersisa, seperti juga tragedi kekejaman Jepang yang seakan terlupakan.

Meski lok uap ini dijadikan cagar budaya, sayangnya lebih banyak orang yang tak tahu akan keberadaannya. Bahkan banyak orang tak tahu ada jalur kereta api Muaro Sijunjung-Pekanbaru. Lokasi cagar budaya berupa sisa lok uap di Muaro juga jadi salah satu kendala, yaitu di hutan Sumatera, meski panoramanya indah, dengan jalanan di sepanjang aliran sungai Batang Kuantan, tapi tak ada penanda yang menunjukkan arah lokasi.

Lokasi lok uap sisa jalur maut Sumatera itu ada di Jorong Silukah Nagari Durian Gadang Kecamatan Sijunjung. Lokomotif uap itu ditemukan masyarakat Silukah pada tahun 1980 saat pembuatan jalan darat dari Silokek ke Durian Gadang dan terus ke Tapus.

Selain di Silukah, jalur kereta api itu juga melewati Silokek, di mana romusha yang baru didatangkan dari Jawa, diturunkan di daerah Ngalau Cigak Nagari Silokek. Di sepanjang jalur Silukah-Silokek inilah terdapat kuburan masal dari ribuan bahkan puluhan ribu romusha. Silokek kini jadi tempat wisata karena pemandangannya. saptarius/kompas.com