Taushiah Ramadhan Nevi Zuairina, 01 Ramadhan 1438 H

464

JURNAL SUMBAR | Wanita dalam Islam, sangat dimuliakan posisinya, amat besar peranannya dalam kehidupan. Dia disebut juga sebagai tiangnya Negara karena pengaruh dahsyatnya terhadap lingkungan yang membuat kemajuan ataupun kerusakan bangsanya.

Allah menciptakan wanita dengan segala sifat kelembutan, meninggikan derajatnya di dalam Al-Quran. Hadir dalam Al-Qur;an surah An-Nisa, tanpa ada surah Ar-Rijal.

Keluarga merupakan pondasi dasar tiang negara. Dari keluarga lah, akan muncul generasi pemimpin, intelektual, ulama, hingga yang terburuk para penzalim di tengah umat. Para ibu di tengah keluarga, punya amanah untuk membentuk karakter anak-anaknya. Untuk itu, kita sebagai wanita memiliki tanggung jawab untuk menguatkan keimanan dan keshalihahan kita, dan bersama-sama dengan suami, akan memilih dan menjalankan pembentukan karakter anak-anak kita.

Seorang ibu berperan sebagai madrasah ‘ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Mendidik adalah tugas mulia sepanjang masa dan tugas mulia ini sudah seyogyanya diemban pertama kali oleh seorang ibu terhadap anaknya. Sebagai sekolah utama tentu saja seorang ibu harus mempersiapkan diri demi memenuhi kebutuhan sebagai kriteria sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bagaimanapun kesiapan bekal seorang ibu sangat mempengaruhi proses pembelajaran anak yang diasuhnya. Untuk itu seorang ibu perlu selalu belajar dan menambah ilmu yang bermanfaat.

Tak ada kata terlambat bagi kita untuk terus memupuk pengetahuan ilahiyyah, tak ada kata malas bagi kita dalam meraih ridha Allah.

Sejak anak lahir dari rahim seorang ibu, maka ibulah yang banyak mewarnai dan memengaruhi perkembangan pribadi, perilaku, dan akhlak anak. Untuk membentuk perilaku anak yang baik tidak hanya melalui bil lisan tetapi juga dengan bil haal yaitu mendidik anak lewat tingkah laku.

Sejak anak lahir, ia akan selalu melihat dan mengamati gerak gerik atau tingkah laku ibunya. Dari tingkah laku ibunya itulah, anak akan senantiasa melihat dan meniru yang kemudian diambil, dimiliki, dan diterapkan dalam kehiduapnnya. Dalam perkembangan anak, proses identifikasi sudah mulai bisa dilakukan ketika si anak berusia 3–5 tahun.

Sejak masa kelahiran seorang anak, proses pertumbuhan berbagai organ belum sepenuhnya lengkap maksimal. Perkembangan dari proses organ-organ ini sangat ditentukan oleh motivasi/rangsangan yang diterima anak dari ibunya. Rangsangan yang diberikan oleh ibu, akan memperkaya pengalaman dan mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Bila pada bulan-bulan pertama anak kurang mendapatkan stimulasi visual, perhatian terhadap lingkungan sekitar juga akan berkurang.

Stimulasi verbal dari ibu akan sangat memperkaya kemampuan bahasa anak baik dari kualitas maupun kuantitasnya. Kesediaan ibu untuk berbicara dengan anaknya akan mengembangkan proses bicara anak. Jadi, perkembangan mental anak akan sangat ditentukan oleh seberapa motivasi/stimulasi/rangsangan yang diberikan ibu terhadap anaknya. Bentuk rangsangan dapat berupa cerita-cerita, macam-macam alat permainan yang edukatif atau bisa juga mengajak rekreasi yang dapat memperkaya pengalamannya.

Di sini lah sosok ibu dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dirinya dengan memperkaya sebanyak mungkin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebagai modal awal dalam rangka keberhasilannya sebagai pemberi motivasi dalam mengantarkan kelangsungan hidup anak yang cerdas serta sukses. ***